Ciri Budaya Pasar Wadai Ramadhan Dinilai `Hilang’

Ciri Budaya Pasar Wadai Ramadhan Dinilai `Hilang’

Suarindonesia – Menyusul setelah dibuka Pasar Wadai Ramadhan yang letaknya di Lapangan Kamboja ternyata selain kondisi parkirnya, tampak semrawut juga identitas Pasar Wadai yang sejak 30 tahun selalu berdampingan dengan sungai kini ‘hilang’, sehingga roh atau ciri yang spesifik dan unik mulai pudar.

“Sejak 33 tahun pelaksanaan Pasar Wadai di Banjarmasin biasanya letalnya berdampingan dengan sungai, dan kini lokasi Pasar Wadai yang berada di Kamboja tampak kurang representatip,’’ ucap Wakil Ketua DPRD Kota Banjarmasin Arufah kepada awak media, di sela-sela Pasar Wadai Ramadhan Kamboja Banjarmasin Tengah.

Politisi PPP ini juga menilai, jika letaknya dibiarkan semrawut tentu saja akan mengurangi masyarakat yang datang ke Pasar Wadai tersebut. Apalagi warga yang biasa datang berduyun-duyun dengan menggunakan kelotok dari kampungya juga tak bisa karena letaknya tak lagi di tepian sungai, sehingga hal ini juga akan mengurangi para peminat warga yang datang ke Pasar Wadai.

Karena itulah, ujar Ketua PPP ini, diharapkan ke depan Pasar Wadai Ramdhan jangan sampai letaknya tak berdampingi sungai. Sebab jika lokasinya tak di dekat sungai tentu saja sama halnya dengan Pasar Wadai Ramadhan di daerah-daerah lainnya.

Ia juga mengatakan memang banyak warga yang akan datang dengan kelotok, setelah letaknya di Pasar Kamboja akan menjadi malas. “Kalau pada tahun-tahun sebelumnya warga yang naik kelotok hilir mudik datang ke Pasar Wadai, tahun ini dipastikan tak ada karena lokasinya cukup lumayan jika harus menggunakan kendaraan sungai,’’ ucap Arufah lagi.

Arufah juga menilai parkir yang kondisinya semrawut diminta dilakukan penataan. Hal ini kalau dibiarkan akan membuat warga malas datang ke Pasar Wadai, mengingat banyak pengendara motor selama ini hilir mudik dan dengan mudah memutar hanya kerena lokasi parkirnya yang kurang tersedia dengan baik.

Untuk itulah, ke depan lokasi Pasar Wadai dibuat tang representatif dan upaya menghidupkan sungai menjadi berada depan Kota Banjarmasin tetap terjaga.

Kemudian yang terpenting lagi, nuasan khas Banjar selain kuenya mulai hilang juga stand yang dibangun sudah pakai tenda, sehingga khas Banjarnya sudah mulai terkikis dan jangan sampai tinggal nama.(SU)

 385 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: