BANJARMASIN Masih Titik Rawan Narkoba, Bandar Incar Warga Ekonomi Lemah jadi Kurir

- Penulis

Selasa, 11 Agustus 2026 - 12:38 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SuarIndonesia – Wlayah Kota Banjarmasin masih titik rawan narkoba, dan vandar incar warga ekonomi lemah jadi kurir. Peredaran narkotika di Kota Banjarmasin belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Sejumlah kawasan bahkan telah dipetakan sebagai blackspot karena tingginya aktivitas peredaran barang haram tersebut.

Di balik maraknya peredaran narkotika itu, ada persoalan lain yang menjadi perhatian kepolisian, yakni kerentanan ekonomi masyarakat.

Kondisi tersebut dimanfaatkan jaringan bandar untuk merekrut warga menjadi kurir. Hal itu disampaikannya saat bertemu dengan insan pers dalam kunjungannya ke Sekretariat PWI Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), Senin (10/8/2026).

Kasat Res Narkoba Polresta Banjarmasin, Kompol Syuaib Abdullah,mengatakan sejumlah wilayah di Banjarmasin memang memiliki tingkat peredaran narkotika yang cukup tinggi.

“Memang di beberapa tempat yang disampaikan tadi termasuk blackspot, tingkat peredaran narkotikanya tinggi,” ujar Syuaib.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat kawasan yang masuk kategori blackspot menjadi salah satu prioritas pengawasan dan penindakan Satresnarkoba Polresta Banjarmasin.

Pengungkapan kasus dengan barang bukti dalam jumlah besar menjadi gambaran masih aktifnya jaringan narkotika.

Dalam sejumlah kasus, aparat berhasil mengamankan lebih dari 19 kilogram narkotika serta ribuan butir pil.

Namun, bagi polisi, banyaknya pengungkapan bukan berarti persoalan selesai.

Sebab, jaringan narkotika terus mencari celah baru untuk mempertahankan distribusi, termasuk dengan merekrut masyarakat sebagai kurir.
Syuaib menyebut faktor ekonomi menjadi salah satu celah yang dimanfaatkan para bandar.

Masyarakat dengan kondisi ekonomi lemah dapat menjadi sasaran perekrutan karena tergiur imbalan yang ditawarkan jaringan narkotika.

“Karena faktor ekonomi, akhirnya ada masyarakat yang dimanfaatkan para bandar menjadi kurir. Ini menjadi salah satu penyebab peredaran narkotika tetap tinggi,” jelasnya.

Kondisi ini menunjukkan pemberantasan narkotika tidak bisa hanya dilakukan melalui penangkapan dan proses hukum.

Dikatakanya, persoalan tersebut juga harus ditangani melalui penguatan ekonomi masyarakat, edukasi serta pencegahan sejak lingkungan terkecil.

Kasat mengungkapkan, untuk mempersempit ruang gerak jaringan narkotika, Satresnarkoba Polresta Banjarmasin bersama BNN Kota Banjarmasin dan pemerintah daerah terus mendorong program Kampung Bebas Narkoba.

“Program tersebut diharapkan mampu membangun kesadaran masyarakat sekaligus menjadikan lingkungan sebagai benteng pertama dalam mencegah peredaran narkotika,” ujarnya

Baca Juga :   SATGAS DARAT Kunci Kendalikan Karhutla

Sejumlah kawasan juga telah mendapatkan perhatian khusus. Di wilayah Alalak, misalnya, program serupa tidak kembali diluncurkan karena sudah terdapat Kampung Bersih Narkoba yang dikelola BNN Kota Banjarmasin.

Selain program berbasis masyarakat, polisi rutin melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah dan kawasan yang dinilai rawan.

Edukasi juga dilakukan melalui kegiatan sosial dan keagamaan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, mengenai bahaya narkotika.

Di sisi penindakan, aparat juga terus memburu jaringan yang berada di belakang para kurir.

Pengungkapan jaringan besar hingga fasilitas produksi narkotika menjadi bagian dari strategi untuk memutus mata rantai peredaran dari hulu hingga hilir.

Polisi menyadari, menangkap kurir saja tidak cukup apabila bandar dan jaringan di atasnya masih dapat bergerak bebas.

“Karena itu, pengungkapan jaringan dan pengembangan kasus terus dilakukan untuk membongkar mata rantai peredaran narkotika secara lebih luas,” tambahnya

Syuaib menegaskan, perang melawan narkotika bukan hanya tanggung jawab kepolisian.

Pemerintah daerah, BNN, lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, tokoh agama, media hingga masyarakat umum dinilai memiliki peran penting dalam memutus mata rantai peredaran narkotika.

“Polresta Banjarmasin tentunya membutuhkan dukungan dari semua pihak, termasuk pemerintah daerah,” tegasnya.

Dengan kolaborasi tersebut, pemberantasan narkotika di Banjarmasin diharapkan tidak berhenti pada penangkapan pelaku.

Lebih dari itu, upaya tersebut diharapkan mampu menyentuh akar persoalan, mulai dari tingginya permintaan, rendahnya kesadaran masyarakat hingga kerentanan ekonomi yang dimanfaatkan bandar untuk merekrut kurir.

Jika celah ekonomi berhasil ditutup dan masyarakat semakin sadar terhadap bahaya narkotika, ruang gerak jaringan bandar di Banjarmasin diharapkan semakin sempit.(*/YI)

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

KEMARAU MENGGANAS, 23 Kebakaran Lahan Terjadi di Banjarmasin
KASUS ISPA Meningkat di Banjarbaru
DISHUT Kalsel Tambah Sarana Penanganan Karhutla di Tahura Sultan Adam
NARKOBA – BALAP LIAR jadi Catatan untuk Kapolresta Banjarmasin
KAWANAN PENJARAH 1,3 Ton Sawit Tertangkap Setelah Dibuntuti Tim Pengawas
SAMPAH Hampir Dua Ton Terkumpul dari Tukar Sembako
SISWI SD jadi Korban Pelecehan Oknum Guru di Banjarmasin, Polisi Turun Tangan
DITILANG Sat Lantas Polresta Banjarmasin 30 Pengendara

Berita Terkait

Senin, 10 Agustus 2026 - 20:57

KASUS MBG: 16 Saksi Dipanggil Kejagung dalam Penyidikan

Senin, 10 Agustus 2026 - 20:50

ENAM Provinsi Rawan Karhutla Difokuskan untuk Ditangani

Senin, 10 Agustus 2026 - 20:17

ANTISIPASI Dampak Karhutla saat Fenomena El Nino

Minggu, 9 Agustus 2026 - 20:56

IBU dan Balitanya Tewas dengan Tubuh Terikat di Hutan

Jumat, 7 Agustus 2026 - 23:22

FEBRIE ADRIANSYAH Usai Diperiksa 7 Jam Dibawa Lagi ke Rutan KPK

Jumat, 7 Agustus 2026 - 20:34

FEBRIE ADRIANSYAH Kenakan Rompi Tahanan Pink ke Kejagung

Jumat, 7 Agustus 2026 - 20:23

MENHUB DUDY: “Kami Jajaki dengan China-Rusia Bangun Rel Trans-Kalimantan”

Kamis, 6 Agustus 2026 - 20:59

PRAPERADILAN Febrie bukan Hindari Proses Hukum

Berita Terbaru

Foto Ilustrasi upaya pemadaman karhutla di Kalimantan Tengah. (Foto: Antara/Auliya Rahman)

Kalteng

BIAYA Helikopter Water Bombing Sekitar Rp 100 Juta/Jam

Senin, 10 Agu 2026 - 22:01

Kabut asap di Banjarbaru. (Foto: detikKalimantan/Khairun Nisa)

Kalsel

KASUS ISPA Meningkat di Banjarbaru

Senin, 10 Agu 2026 - 21:51

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca