SuarIndonesia – Wisata Kuliner Mandiri (WKM) yang lama mati suri bakal diubah menjadi Kota Lama Riverside (KRL). Hal itu disampaikan langsung oleh Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina.
Ia menjelaskan, kawasan yang lama akan dibersihkan dan direnovasi. Sesuai dengan konsep Water Front City, dengan lebih banyak area terbukanya.
Ada kafe-kafe di sekitarnya, menyambung kawasan Kota Lama. Kemudian dijadikan tempat pedestrian seperti di kota lain.
Dijelaskan Ibnu, pasca pandemi, pembangunan sekarang mesti menyesuaikan. Modelnya, berupa sarana ruang publik yang luas. Tempat yang nyaman untuk berinteraksi. Karena saat ini sudah ada investor swasta yang masuk.
Disinggung terkait nasib sejumlah pedagang yang tersisa, ia menyatakan bakal merangkulnya.
“Tapi, tetap akan diseleksi oleh pihak investor swasta. Desainnya sudah ada, dan masih proses,” ujarnya, ketika diwawancarai di Balai Kota, belum lama tadi.
Di sisi lain, Ibnu menjelaskan bahwa kawasan itu hanya sebagian saja digunakan oleh investor swasta. Artinya, masih ada sebagian lahan. Dan itu, akan ditawarkan ke pihak lainnya.
“Baru setengah, masih ada setengah lagi. Jadi, bisa ditawarkan ke pihak perbankan, atau pihak swasta lainnya,” tambahnya.
Terpisah, adanya rencana renovasi dan pengembangan KWM juga sudah didengar oleh sejumlah pedagang yang menghuni kawasan yang berlokasi di Jalan Hasanuddin HM, Kecamatan Banjarmasin Tengah.
Salah satunya, mantan Wakil Ketua Koperasi WKM, Yadi. Meski mengetahui kabar itu, sayangnya hingga kini pihaknya mengaku belum mendapatkan informasi langsung dari Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina terkait rencana itu. Ia justru mendapat kabar, bahwa para pedagang yang tersisa, harus angkat kaki tahun ini.
Padahal menurutnya, bila melihat perjanjian kontrak yang ada sejak tahun 2013, baru berakhir pada tahun 2023 mendatang.
Ia pun lantas menceritakan awal mula terbentuknya kawasan tersebut. Dituturkannya sejak tahun 2013 atau pada saat era Wali Kota Banjarmasin masih dijabat H Muhidin, ialah yang menginisiasi koperasi bersama pedagang lainnya.
“Pembangunan awal KWM ini juga menggandeng Dinas Koperasi dan UMKM. Kemudian, kami menerima dana hibah kementerian. Kebetulan ada program untuk 50 UMKM. Kami ajukan, akhirnya terealisasi kawasan ini,” tuturnya.
Di sisi lain, kios-kios lama yang ada di KWM menurut Yadi, secara tidak langsung milik koperasi yang telah mendirikan kawasan tersebut.
Menurut Yadi, seharusnya pemko bisa datang langsung ke lokasi. Mendata warung-warung yang masih aktif, lalu, menyampaikan bagaimana nasib pedagang ketika ada investor yang masuk.
“Alangkah baiknya jika ini dibicarakan bersama. Mencari solusi sama-sama bagaimana nasib kami di sini,” tekannya.
Disinggung terkait pernyataan Ibnu yang bakal merangkul pedagang yang ada, Yadi menyatakan bahwa bila tanpa adanya jaminan tertulis, pernyataan itu menurutnya hanyalah janji manis.
Dan tidak menutup kemungkinan, membuat nasib pedagang jadi terkatung-katung tanpa adanya kejelasan.
“Kalau tidak ada pendataan dan survei ke pedagang yang masih aktif di WKM, artinya bisa dipastikan bahwa jawaban wali kota hanya sekadar jawaban politis,” pungkasnya.
Diketahui, sebelumnya. WKM berada di tepian Sungai Martapura. Berseberangan dengan maskot patung bekantan itu.
Kawasan ini, dahulu dibangun pada tahun 2013. Kerja sama antara Pemko Banjarmasin dengan salah satu bank BUMN.
Diresmikan pada tahun 2014, KWM dikenal dengan ragam dagangan kulinernya. Sempat pula menjadi ikon wisata kuliner di Banjarmasin.
Sayang, pamornya sebagai ikon wisata kuliner itu tidak berlangsung lama. Hanya hingga tahun 2017 saja. Setelah itu, KWM perlahan ditinggalkan pengunjung.(SU)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















