Suarindonesia – Sebanyak 27 pemerintah kota yang tergabung dalam Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) menyatakan komitmen menuju kota inklusif disabilitas, termasuk kota Banjarmasin yang kini menjadi tuan rumah pertemuan Tingkat Tinggi Wali Kota untuk Kota Inklusi ke 8 dan Lokakarya Perencanaan Pembangunan.
Pernyataan komitmen Wali Kota dan Perwakilan Wali Kota tersebut dibubuhkan dalam penandatanganan piagam jaringan Wali Kota Indonesia menuju kota inklusif pada acara pertemuan tingkat tinggi Wali Kota untuk kota inklusif ke-8 di Hotel Best Western Banjarmasin, Kamis (03/10/2019).

Pada acara lokakarya perencanaan dan pembangunan kota inklusif disabilitas berbasis data tersebut digelar di Hotel Best Western dari 3-4 Oktober 2019 juga menghadirkan produk hasil kerajinan para Disabilitas warga Banjarmasin.
“Kepesertaan bertambah dari tahun lalu, sebanyak 13 kota, kini menjadi 27 kota yang mengikuti acara ini,” ujar Wali Kota Banjarmasin H Ibnu Sina usai pembukaan kepada awak media.

Menurut Ibnu, Kota Banjarmasin sebagai tuan rumah penyelenggaraan tahun ini ingin berbagi pengalaman dan sharing dengan kota lain yang sudah menuju sebagai kota inklusif bagi kaum disabilitas.
“Kalau kota kita launching menuju kota itu sejak 2018, berbagai kebijakan pembangunan pun sudah mengikuti panduan bagaimana kota inklusif disabilitas itu,” paparnya.
Menurut Ibnu Sina, ada tiga aspek yang dibicarakan dan dibahas pada acara ini, pertama terkait regulasi, kedua terkait pembangunan fasilitas dan layanan publiknya, ketiga kepedulian dan penerimaan masyarakat terhadap kaum disabilitas ini.
Dicontohkan, kata Ibnu Sina, pembangunan trotoar yang ramah disabilitas, kantor-kantor layanan publik yang aksesnya ada sarana bagi disabilitas. “Kalau di daerah kita ini bahkan akan ada kita bangun kampung inklusi di Palambuan, Banjarmasin Barat tahun depan,” katanya.

Khusus untuk transportasi dan pendidikan, Banjarmasin juga sudah memiliki angkot khusus disabilitas. Untuk pendidikan juga sudah ada sebanyak 34 SD dan sekitar 10 SMP inklusi, di mana tenaga pendidik ahli untuk menangani anak-anak berkebutuhan khusus tersebut terbilang sudah banyak tersedia.
Perwakilan Apeksi pusat Dr Jefri Riwu Kore yang merupakan Wali Kota Kupang mengatakan bahwa salah satu kota inklusi percontohan di Indonesia adalah Kota Banjarmasin.
Menurut dia, penting semua kota di Indonesia ini untuk memperhatikan hak-hak masyarakat disabilitas, terutama kota yang tergabung di Apeksi.
Dikatakan, ada sebanyak 98 kota yang tergabung di Apeksi ini, pihaknya terus mendorong kota-kota lain untuk bergabung, karena dalam kelompok ini lebih terarah upaya menuju sebagai kota inklusif disabilitas yang dapat perhatian pemerintah pusat.
“Tetapi komunikasi terus kita bangun dengan semua anggota Apeksi, moga semua kompak nanti,” katanya.(SU)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















