2.000 Bekantan Berada di Luar Kawasan Konservasi

2.000 Bekantan Berada di Luar Kawasan Konservasi

Suarindonesia – Mengingat kurang lebih 2.000 ekor bekantan yang berada di luar kawasan konservasi, Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Provinsi Kalimantan Selatan akan melakukan pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial dengan membentuk Forum Konservasi Flora dan Fauna, Senin (29/10/2018).

Kepala Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Provinsi Kalimantan Selatan, Mahrus Aryadi mengungkapkan bahwa jumlah bekantan yang berada di dalam kawasan konservasi berjumlah 2.400 ekor. Adapun jumlah bekantan yang berada di luar kawasan konservasi berjumlah kurang lebih 2.000 ekor.

“Maka dari itu perlu adanya sebuah forum yang peduli dengan konservasi di Kalimantan Selatan yang melakukan pengelolaan kawasan ekosistem Esensial tersebut,” ujarnya.

Mahrus pun menjelaskan bahwa Kawasan Ekosistem Esensial adalah ekosistem di luar kawasan suaka alam dan atau kawasan pelestarian alam yang mempunyai nilai penting secara ekologis menunjang kelangsungan kehidupan melalui upaya konservasi keanekaragaman hayati untuk kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia yang ditetapkan sebagai kawasan yang dilindungi.

Ia mengungkapkan ihwal bukan hanya bekantan yang akan menjadi fokus forum konservasi flora dan fauna dalam pengelolaan kawasan Ekosistem Esensial di Kalsel. Akan tetapi, berkurangnya habitat fauna seperti uwa-uwa dan lutung pun akan menjadi atensi forum tersebut.

“Sedangkan untuk flora, kita akan berikan perhatian khusus untuk buah kasturi, karena pohonnya mulai langka,” ujarnya.

Menurutnya, ada beberapa kriteria yang akan dijadikan forum konservasi Flora dan fauna sebagai Kawasan Ekosistem Esensial yaitu ekosistem lahan basah, koridor hidupan liar, areal bernilai konservasi tinggi, taman keanekaragaman hayati dan areal konservasi kelola masyarakat.

Mahrus menegaskan bahwa untuk flora dan fauna yang dilindungi oleh Undang-undang yang berada di kawasan konsesi pertambangan dan perkebunan kelapa sawit merupakan tanggungjawab pemegang konsesi dengan berpegang pada Analisis Dampak Lingkungan (Andal) yang pernah dibahas sebelum izin lingkungan keluar.

“Ada beberapa perusahaan yang sudah melakukan konservasi fauna seperti halnya, PT. Jhonlin,” pungkasnya

(BY)

 213 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: