Harapan Baru Kepemimpinan ULM

Harapan Baru Kepemimpinan ULM
Oleh: Syaharuddin Dosen S1 dan S2 ULM

Membaca tulisan Ersis Warmansyah Abbas (EWA) pada harian Radar Banjarmasin (17/9/2018) yang mengulas  tentang beberapa hal yang terkait dengan harapan-harapan  dosen dan mahasiswa ULM. Antara lain, EWA menjelaskan bagaimana semangat semua orang dan komponen bergerak mendukung menuju ULM pada posisi akreditasi “A”. Tentu ini bukan mimpi, karena sudah lebih dari 20 prodi di ULM telah terakreditasi “A”, sebuah indikator bahwa ULM telah berbenah dalam berbagai aspek. Dalam bahasa Paman Birin, “Bergerak”.

Dalam konteks sistem nilai budaya Banjar, maka pencapaian yang telah dicapai ULM adalah berkat kayuh baimbai, dan sebaliknya, bukan bacakut papadaan. Saya memahami sistem nilai ini mengarah pada bagaimana kita mengayuh bersama-sama menuju suatu tujuan yang sama. Bersama-sama menuju harapan (visi) bersama. Tentu semangat ini memiliki relevansi terhadap berbagai tantangan global khususnya dalam dunia pendidikan tinggi. Untuk menuju daya saing bangsa nasional dan internasional tidak cukup hanya harapan-harapan para pimpinan universitas, akan tetapi harus didukung pula oleh komponen berbagai elemen-elemen kampus, baik dosen, karyawan dan mahasiswa serta seluruh unsur pimpinannya dan stakeholder (termasuk alumni).

Ruang Kuliah Representatif, Hal lain yang diutarakan EWA adalah bermunculannya gedung-gedung baru ULM, baik di Banjarmasin maupun di Banjarbaru.  Jika selama ini warga kampus selalu “ribut” soal ruangan, maka akan datang kita berharap itu tidak terjadi lagi. Dulu, dan sekarang masih ada beberapa persoalan ruang, maka akan datang kita berharap tidak ada lagi masalah ruang. Ruang akan tersedia dan representatif. Kita merindukan ruang kelas yang mendukung suasana belajar dan nyaman. Tentu ruang yang dimaksud adalah ruang sejuk (ber-AC), bersih dan rapi, tersedia papan tulis beserta peralatan pendukungnya, serta LCD yang sudah terpasang bukan “bongkar pasang”.

Disamping itu, juga perlu sarana pendukung lainnya, seperti toilet yang bersih, tempat ibadah (musala), kantin yang representatif (bersih dan tertata serta varian makanan yang disediakan serta terjangkau oleh mahasiswa), ruang baca yang memiliki referensi yang cukup dan dapat diakses kapan pun, tersedia peralatan ATK dan Fotocopy, dan parkir (gratis). Semua itu merupakan sarana yang mendukung mahasiswa dan dosen dalam beraktivitas di kampus yang membuat mereka betah.

Disamping itu, fasilitas internet yang dapat diakses kapan pun baik oleh mahasiswa maupun dosen untuk menunjang proses pembelajaran yang efektif. Internet memang telah tersedia, namun kapasitasnya yang  mungkin ditambah sehingga dapat diakses kapan pun dan dimanapun serta dengan jumlah pemakai yang tidak terbatas. Saya sendiri, sebagai dosen hampir tidak pernah menikmati fasilitas itu dengan nyaman dan lancar. Tentu hal ini merupakan kendala dalam proses pebelajaran dimana saat ini sebagian besar dosen telah mengoptimalkan internet sebagai media dan sumber pembelajaran, seperti e-learning.   Ketika kuliah di UPI Bandung, pimpinan pasca menyediakan  ruang khusus yang representatif untuk dapat mengakses internet beserta alamat-alamat jurnal nasional dan internasional. Setiap hari ruangan itu tidak pernah kosong oleh mahasiswa. Mereka betah di sana karena akses internet yang baik, lancar suasana tenang, dan nyaman dengan berbagai sarana pendukung lainnya, seperti perpustakaan, musala, kantin, foto copy dan ATK dan toilet yang bersih.

Sarana Olahraga, Ketika saya kuliah di UGM, di sana terdapat gedung arena olahraga yang  lebih dikenal “Gelanggang Olahraga Mahasiswa” serta sekretariat UKM-nya. Saya sendiri sempat menikmati gelanggang tersebut sebagai anggota UKM Persaudaraan Shorinji Kempo Indonesia (PERKEMI) UGM. Gelanggang tersebut digunakan oleh mahasiswa dalam berbagai kegiatan olahraga dan secara gratis. Penggunaan Gelanggang Olahraga Mahasiswa UGM sangat padat dan sudah terjadwal rapi. Semua UKM Olahraga harus mematuhinya. Gelanggang tersebut hampir tidak pernah kosong. Karena itu, jika prestasi olahraga mereka lebih baik tentu jawabannya karena adanya sarana olahraga yang cukup yang memadai. Adanya beberapa gedung baru, seperti sport centre ULM tentu kita berharap prestasi olahraga ULM akan semakin baik. Jika tahun lalu (2017) pada kegiatan POMNAS di Makasar (Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional) tim Olahraga ULM belum mampu meraih pencapaian tertinggi (hanya meraih 1 medali Emas dari cabor KEMPO dan beberapa medali perak dan perunggu dari Silat dan cabor lainnya) maka ke depan tentu akan memberikan prestasi lebih.

Pencapaian Prestasi Mahasiswa Adanya keberhasilan yang diraih mahasiswa dalam beberapa tahun terakhir, sebagaimana yang telah dijelaskan EWA, seperti: tampilnya mahasiswa ULM pada kompetisi mobil rakitan di Singapura dan prestasi mahasiswa kedokteran pada tingkat nasional begitu pula prestasi dalam bidang olahraga. Walaupun ULM absent pada perhelatan ASIAN GAMES yang lalu. Pencapaian ini perlu terus ditingkatkan menuju ULM berdaya saing nasional bahkan internasional. Kuncinya, tentu harus didukung berbagai kebijakan universitas yang kemudian harus didukung pula oleh pimpinan hingga level yang paling bawah (prodi). Tanpa itu, rasanya sulit membentuk mahasiswa yang berdaya saing nasional apalagi internasional dalam berbagai bidang. Adanya pembangunan berbagai sarana saat ini oleh ULM merupakan indikator menuju ULM berdaya saing itu.

Melalui tulisan ini, saya mengucapkan selamat atas pelantikan Prof. Dr. Sutarto Hadi, M.Si.,M.Sc.  sebagai Rektor ULM Banjarmasin periode 2018-2022. Semoga berhasil mengayuh ULM menuju prestasi yang lebih baik lagi.

(Ditulis oleh Syaharuddin, Dosen S1 dan S2 FKIP ULM)

 238 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: