SuarIndonesia — Kabar meninggalnya salah seorang politikus senior di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) yakni H Abidin, menjadi duka yang mendalam bagi Ketua DPC Gerindra Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin.
Dari pengakuan pria yang sekarang menduduki kursi Wakil Ketua I DPRD Kota Banjarmasin itu ternyata memiliki banyak kenangan tersendiri yang berhubungan dengan sosok Ketua Umum Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerindra Provinsi Kalsel yang meninggal dunia pada Rabu (16/03/2022) sekitar pukul 12.30 WITA tadi.
Bagi Yamin, mendiang H Abidin adalah sosok yang patut dijadikan panutan sekaligus teladan bagi masyarakat banua, terutama sifat kedermawanan dan rendah hati yang selalu dijunjung tinggi oleh almarhum.
“Pribadi yang luar bisa dan baik hati beliau ini selalu menjadi panutan bagi kami dalam segala hal, baik dalam bidang politik, pertemanan, bersaudara dan bisnis,” ungkapnya pada awak media, Rabu (16/03/2022) siang.
Bahkan, ketika setiap kali almarhum memberikan arahan dan nasehat dalam berpolitik dan bermasyarakat pada setiap kader Partai Gerindra di Kalsel selalu diterima dan dilaksanakan.
“Karena beliau ini adalah orang yang sangat bijaksana dan lagi pemurah dan selalu tegur sapa dengan siapa saja,” ucapnya.
Yamin menceritakan, kesan mendalam terkait sosok H Abidin ini adalah perhatian yang dicurahkan kepada dirinya yang selama ini tak pernah lelah memberikan motivasi kepadanya dalam menjalani kehidupan berpolitik.
“Beliau lah yang membuat saya bisa sampai sepert sekarang ini, yakni sebagai anggota DPRD Kita Banjarmasin. Selama hidup, almarhum selalu menanamkan sekaligus mendorong untuk menjadi pemimpin yang baik, menjalankan amanah sebagai wakil rakyat yang jujur, adil, bijaksana, dan bermanfaat bagi semua masyarakat,” imbuhnya.
Kemudian, salah satu tokoh di organisasi Nahdlatul Ulama (NU) dan Parpol Gerindra itu juga menjadi orang pertama yang menyuport Yamin selama meninggalkan Kota Banjarmasin dalam menuntut ilmu perguruan tinggi.
“Bersama orangtua, beliau mengantarkan saya ke Yogyakarta untuk menuntut ilmu di perguruan tinggi yang hanya memakai transportasi laut (kapal),” imbuhnya.
Keputusan menggunakan jalur laut itu lantaran kondisi almarhum yang saat itu tidak memungkinkan jika menggunakan pesawat.
Alhasil Yamin bersama kedua orangtuanya pun langsung diantar langsung oleh H Abidin dengan menggunakan kapal feri cepat untuk sampai ke lokasi tujuan.
“Sesampainya di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, kami sama-sama naik mobil menuju Yogyakarta sekalian mengantar anak beliau H M Nur yang bersekolah di pesantren Gontor, sedangkan saya di Universitas Ahmad Dahlan,” paparnya.
Tidak sampai di situ, bahkan selama dirinya menyelesaikan kuliah, Yamin menyebut mendiang H Abidin selalau memberikan uang kuliah kepada dirinya.
“Karena orangtua saya H Rusliansyah dengan almarhum sudah badingsanakan (bersaudara) dunia akhirat, makanya saling membantu,” imbuhnya.
“Kalau dari cerita orangtua saya, selama membangun usaha mereka selalu berdua ke mana-mana dan bahkan tidur dalam satu kamar. Alhamdulillah beliau berdua sukses sampai sekarang,” tuturnya.
Besarnya jasa almarhum yang dirasakan Yamin itulah yang membuatnya berduka dan sangat merasa kehilangan. Bagi Yamin, almarhum H Abidin sendiri sudah dianggapnya sebagai ayahnya sendiri.
“Jasa-jasa beliau sangat besar bagi kami dan bagi partai, karena besarnya Partai Gerindra di Kalsel yang sekarang ini dirasakan tak lepas dari kontribusi beliau yang membina kami mulai dari nol sampai besar seperti sekarang ini,” ungkapnya.(SU)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















