Suarindonesia – Memasuki musim kemarau tahun 2019 ternyata produksi air bersih PDAM Bandarmasih masih aman. Bahkan sungai kualitas air di Banjarmasin sudah asin tetapi sampai sekarang produksi air baku aman hanya saja memang ada peningkatan permintaan daerah luar Banjarmasin.
“Kalau data yang ada sekarang ini jumlah peningkatan permintaan termasuk masyarakat yang tadinya pemakai sungai dengan mulainya asin peningkatan permintaan sampai 20-25 persen dari jumlah produksi,’’ ucap Direktur Operasional PDAM Bandarmasih H Supian MT kepada awak media, di Banjarmasin, Senin (26/08/2019).
Ia mengaku tingkat keasinan di Intake Sungai Bilu sudah naik, tetapi hanya beberapa jam saja yang mencapai 250 liter/detik.
Namun dengan pasokan air baku Pematang Panjang dari Sungai Tabuk ahirnya kondisi produksi air tetap normal.
Jadi, katanya, kalau ada yang menyatakan tingkat keasinan menjadi ancaman untuk produksi air baku di Sungai Martapura masih belum dan sampai sekarang dalam kondisi aman.
Hal ini terbukti selama ini Intake Sungai Bilu masih dijalankan produksinya dengan sistem campuran ataun pengolahan di masing-masing Intake.
Supian juga memaparkan pada umumnya sekarang ini untuk daerah pinggiran lonjakan permintaan air terus bertambah.
Karena mereka yang awalnya menggunakan air sungai setelah asin jumlahnya permintaan terus meningkat, baik mereka meminta atau membeli tangki dan sistem jerigen. “Yang jelas selama ini jumlah peningkatan produksi mencapai 20 persen lebih,” katanya.
Sebelumnya Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin dr H Machli Riyadi mengakui, beberapa parameter sungai telah melampaui perhitungan kualitas air seperti BOD (Biological Oxygen Demand), COD (Chemical Oxygen Demand), TSS (Total Suspended Solid), Merkuri, dan kadar e-Coli sudah tak layak dikonsumsi manusia.
“Mengonsumsi air sungai yang tercemar tentu memunculkan berbagai macam penyakit,” ujarnya.
Ironisnya lagi ketika air tersebut mengandung unsur-unsur tidak bersahabat bagi tubuh. Paling mengerikan, kata dia, adalah mercury yang biasa digunakan menambang emas. Mercury merusak kerja syaraf.
Dalam jumlah dan kadar tertentu, elemen kimia bersimbol Hg dan bernomor atom 80 itu pun akan memicu kanker.
Bahkan, ujar Machli, unsur biologi yang terkandung dalam air sebenarnya juga tak kalah seram. Contohnya bakteri e-Coli yang berasal dari kotoran manusia.
“Kandungan e-Coli dalam air juga bisa membuat fungsi hati terganggu. Lama kelamaan, mereka yang tubuhnya banyak terkandung e-Coli tersebut bisa terkena sakit hati atau hepatitis, terutama hepatitis A,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengawasan DLH Banjarmasin, Wahyu Hardi Canyono menerangkan masalahnya hanya baku mutu air sungai. “Mudah-mudahan persoalan bisa cepat diatasi,” harapnya.
Bahkan tahun 2018, DLH telah melakukan pemantauan 10 titik sungai yang umumnya merupakan urat nadi kehidupan masyarakat Banjarmasin. Seperti Sungai Pekapuran, Pemurus, Antasari, Martapura, Barito, Kuin, Surgi Mufti dan Kelayan.
“Ya pasti kalau kualitas air sungai menurun berpengaruh pengelolaan air bersih. Dan bila kualitas air yang Sungai buruk juga otomatis berpengaruh pada kehidupan masyarakat luas,’’ katanya.
Sebab di antara sungai yang tercemar umumnya merupakan urat nadi induk dari sungai. Hal itu menyikapi masyarakat Banjarmasin sering melakukan aktivitas di sekitar sungai, seperti mandi, cuci, kakus atau MCK.(SU)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















