Ilmuwan Dunia: Tetap Waspada Tsunami dari Gunung Anak Krakatau

- Penulis

Senin, 24 Desember 2018 - 11:24 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kerusakan yang diakibatkan Tsunami Selat Sunda. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

Suarindonesia — Peristiwa tsunami Selat Sunda yang menerjang kawasan pantai di Kabupaten Pandeglang, Banten dan Lampung Selatan, Lampung pada Sabtu (22/12) mengagetkan publik. Tsunami diduga terjadi akibat peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Sejumlah ilmuwan dunia memperingatkan bahwa tsunami lain dapat melanda Indonesia, khususnya di Selat Sunda. Peringatan itu muncul pada Minggu (23/12), setelah lebih dari 200 orang menjadi korban tewas tsunami.

Peringatan itu muncul merujuk pada peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang disebut bakal terus memicu longsor di bawah permukaan air laut.

“Kemungkinan tsunami lebih lanjut di Selat Sunda akan tetap tinggi karena Gunung Anak Krakatau sedang memasuki fase aktif saat ini,” ujar ilmuwan Richard Teeuw dari Portsmouth University, Inggris, mengutip AFP.

Para ilmuwan mengingatkan untuk tetap waspada mengingat Gunung Anak Krakatau yang telah bergejolak dan tidak stabil.

Menurut Teeuw, saat ini survei sonar diperlukan untuk memetakan dasar laut di sekitar gunung berapi. Namun, lanjut dia, sayangnya survei semacam itu biasanya membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk dilakukan.

Meski relatif jarang terjadi, letusan gunung berapi laut dapat menghasilkan gangguan impulsif yang meningkatkan volume air dan menghasilkan gelombang tsunami.

Menyitat laman International Tsunami Information Center UNESCO, pada mekanisme ini, gelombang tinggi dapat dihasilkan oleh perpindahan air secara mendadak yang disebabkan oleh ledakan gunung berapi.

Tercatat, salah satu tsunami akibat letusan gunung api laut terbesar pernah terjadi pada Gunung Krakatau. Peristiwa yang tercatat dalam sejarah itu terjadi pada 26 Agustus 1883 silam. Ledakan ini menghasilkan gelombang yang mencapai 135 kaki atau 41 meter, menghancurkan kota-kota di wilayah pesisir pantai dan desa-desa di sepanjang Selat Sunda serta menewaskan 36.417 jiwa.

Baca Juga :   PROGRAM Tukar Sampah jadi Sembako, Ini Diminta Berkelanjutan

Aktivitas Gunung Anak Krakatau dipantau telah meningkat sejak Juni 2018. Selama periode Oktober-November 2018 telah terjadi erupsi yang lebih besar dan status ditingkatkan menjadi Waspada.

Gunung Anak Krakatau sendiri masih berada dalam fase pertumbuhan. Tubuhnya bertambah tinggi hingga 4-6 meter per tahun.

Indonesia sendiri memiliki 127 gunung api aktif dan berada di zona ‘Cincin Api’. Dengan kondisi demikian, aktivitas gempa dan letusan gunung berapi kerap melanda Indonesia.

Sebagaimana diketahui, gelombang tinggi tsunami menerjang kawasan pantai Kabupaten Pandeglang, Banten dan Lampung Selatan, Lampung pada Sabtu (22/12). Gelombang tinggi ini dipicu oleh longsoran Gunung Anak Krakatau dan gelombang laut tinggi di wilayah tersebut.

Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan tidak ada potensi tsunami susulan di sekitar perairan Banten.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono mengatakan, sensor BMKG tidak mendeteksi adanya perubahan air laut yang signifikan di Selat Sunda.

“Semua (kabar tsunami susulan) itu masih simpang siur. Yang pasti dari kami tidak mencatat atau melihat hal serius yang signifikan terkait potensi tsunami susulan,” ujar Rachmat di Jakarta, Minggu (23/12).(CNNIndonesia/RA)

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

KAPOLSEK Banjarmasin Utara Sambangi Warga Kurang Mampu
POLICE LINE Lokasi Dugaan Tambang Emas di Palau Aranio
SAT POLAIRUD Polresta Banjarmasin Tebar Kepedulian Lewat Jumat Berkah
BNPB Siagakan Satu Pesawat untuk OMC
DIHADAPAN Wapres Gibran Tunjukkan Inovasi Cairan dan Drone Thermal Langsung di Titik Api
RESMI DITUTUP, 4.151 Mahasiswa Baru UNISKA MAB Siap Memulai Perkuliahan
HANYA BELASAN MENIT Kunjungan Kerja Wapres Gibran di SR Banjarbaru
MAULID di DPRD Kalsel, Momentum Pererat Silaturahmi dan Tingkatkan Keimanan

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 00:29

KAPOLSEK Banjarmasin Utara Sambangi Warga Kurang Mampu

Jumat, 11 September 2026 - 21:58

HAJI ISAM Dikabarkan Bidik 62% Saham BYAN Rp 52,7 T

Jumat, 11 September 2026 - 17:36

SAT POLAIRUD Polresta Banjarmasin Tebar Kepedulian Lewat Jumat Berkah

Kamis, 10 September 2026 - 22:46

3.105 HA TNTP Terbakar, Habitat Orang Utan Terancam!

Kamis, 10 September 2026 - 22:06

BNPB Siagakan Satu Pesawat untuk OMC

Kamis, 10 September 2026 - 21:58

DIHADAPAN Wapres Gibran Tunjukkan Inovasi Cairan dan Drone Thermal Langsung di Titik Api

Kamis, 10 September 2026 - 21:45

RESMI DITUTUP, 4.151 Mahasiswa Baru UNISKA MAB Siap Memulai Perkuliahan

Kamis, 10 September 2026 - 18:08

HANYA BELASAN MENIT Kunjungan Kerja Wapres Gibran di SR Banjarbaru

Berita Terbaru


Kepala BGN Sudaryono. (Foto: HO-BGN)

Nasional

BGN Keluarkan 1.653 Satuan Pendidikan Penerima MBG

Sabtu, 12 Sep 2026 - 00:01

Ilustrasi. (si/ut/gemini.ai)

Kesehatan

PERBEDAAN Keracunan dan Alergi Makanan

Jumat, 11 Sep 2026 - 23:29

Kebakaran yang melanda Desa Soren, Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Kamis (9/7/2026).(Foto: HO-BPBD KOTIM)

Kalteng

HOTSPOT Kalteng Menggila Lagi!

Jumat, 11 Sep 2026 - 22:34

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca