HUKUM RIMBA Jalan Raya

- Penulis

Senin, 13 Januari 2025 - 14:08 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SuarIndonesia – Di negara-negara maju yang peradaban di jalan rayanya lebih tinggi, sangat memuliakan pejalan kaki sebagai pengguna jalan yang harus diutamakan.

Lahirlah budaya, dimana truk teronton menghormati mobil kecil – terutama mobil penumpang, mobil menghormati pengemudi kendaraan, kendaraan menghormati pengguna sepeda, dan akhirnya semua pengendara di jalan.

Mulai dari truk teronton, mobil, kendaraan roda dua dan sepeda, memuliakan pejalan kaki, mengutamakan pengguna kursi roda dan melindungi kelompok disabilitas.

Memang begitulah seharusnya peradaban di jalan raya.

Bukan sebaliknya, truk teronton arogan melibas mobil penumpang, mobil merampas hak pengemudi kendaraan, kendaraan semena-mena membahayakan pengguna sepeda, dan semua pengendara di jalan raya merampas hak penjalan kaki, pengguna kursi roda dan tidak melindungi kelompok disabilitas.

Hal demikian menggambarkan hukum rimba jalan raya, dan itulah yang terjadi pada negara-negara yang peradaban di jalan rayanya masih rendah.

Yang pelayanan publiknya di jalan raya tidak ditangani secara serius. Jalan raya hanya dijadikan obyek untuk mencari keuntungan dan uang, tidak dalam rangka membangun peradaban, apalagi sampai ekspresi seni dan budaya.

Jalan raya yang sekarang dibangun begitu modern, awalnya adalah jalan setapak untuk pejalan kaki.

Baca Juga :   TRUK TRAILER "Si Ular Besi" Macetkan Arus di Jalan Trans Kalimantan, Handil Bakti

Sejak 3000 tahun SM sudah ditemukan jalan setapak di Mesopotamia. Dari sanalah peradaban jalan raya pertama seperti di Romawi, Tiongkok, dan India dibangun lebih maju dengan lapisan batu dan kerikil.

Di Indonesia sendiri jalan-jalan pertama juga jalan setapak berupa tanah, sampai pihak kolonial membangun jalan melalui sistem kerja paksa.

Kalau jalan semula diperuntukkan untuk pejalan kaki, kenapa kemudian justru pejalan kaki yang tersingkir di jalan raya?.

Kenapa jalan raya tidak menjadi ekspresi ketinggian peradaban warganya, sehingga pejalan kaki, pengguna kursi roda dan kelompok disabilitas, dimuliakan sebagai pengguna jalan yang diutamakan dan dilindungi.

Oleh: Noorhalis Majidnm/(Ambin Demokrasi)

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

HUJAN Guyur Sejumlah Daerah di Kalsel
OMC Semai Tiga Ton Garam
WUJUD KEPEDULIAN Jajaran Polresta Banjarmasin Sambangi Rumah Duka Anggota Relawan BPK KTC
SEHARI PENCARIAN, Jasad Anak yang Tenggelam Ditemukan
SATU Ton Cairan Inovasi Karhutla Dikirim ke Kalteng
TIM BAPANAS RI Dikawal Polda Kalsel Cek Stok dan Harga Beras di Pasar Muara Kelayan
DPRD Kalsel dan Kalteng Perkuat Wawasan Ekonomi dan Keuangan
PERKUAT SINERGI Pengawasan dan Pelayanan Publik Dilaksanakan DPRD Kalsel dan Kalteng

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 21:58

KARHUTLA Kalteng: Ada 25 Tersangka, 4 Perusahaan Diselidiki

Selasa, 8 September 2026 - 21:53

OMC Berhasil Turunkan Hujan di Palangka Raya

Selasa, 8 September 2026 - 20:47

TATA KELOLA Air Kunci Cegah Kebakaran Lahan Gambut

Selasa, 8 September 2026 - 20:34

MANFAATKAN Inovasi Cairan Surfaktan Tangani Karhutla

Senin, 7 September 2026 - 23:24

DUA Wanita Tarakan Selundupkan 35 Bungkus Narkoba Pakai Cokelat

Senin, 7 September 2026 - 22:59

HUJAN Guyur Sejumlah Wilayah di Kotim

Senin, 7 September 2026 - 22:54

OMC Kalteng Terkendala Langit Minim Awan

Senin, 7 September 2026 - 22:12

POLRI Tetapkan 138 Tersangka Karhutla

Berita Terbaru

Hujan lebat terjadi di sepanjang Jalan Tjilik Riwut, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Selasa (8/9/2026) petang.(Foto: Kompas.com)

Kalteng

OMC Berhasil Turunkan Hujan di Palangka Raya

Selasa, 8 Sep 2026 - 21:53

Hujan di Kalsel. (Foto: Istimewa)

Balangan

HUJAN Guyur Sejumlah Daerah di Kalsel

Selasa, 8 Sep 2026 - 21:38

Api membakar lahan di Desa Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Minggu (30/8/2026). (Foto: Antara/Auliya Rahman)

Kalteng

TATA KELOLA Air Kunci Cegah Kebakaran Lahan Gambut

Selasa, 8 Sep 2026 - 20:47

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca