Datu Labah Murid Datu Balimau Bernama Asli Gusti Saaluddin (2/habis)

Datu Labah Murid Datu Balimau Bernama Asli Gusti Saaluddin (2/habis)

Suarindonesia – DALAS BELANGSAR DADA, MUN MANYARAH KADA …Inilah kalimat yang terpatri di dalam jiwa para Pejuang Banjar saat itu, mereka merindukan syahid membela tanah leluhur dari kesewenang-wenangan Pemerintah Hindia-Belanda.

Belanda geram bukan main ketika mengetahui Haji Gusti Saaluddin bersama tokoh-tokoh Banua Lima lainnya membelot berpihak dan mendukung penuh Pangeran Hidayat sebagai ahli waris yang berhak menduduki tahta Kesultanan Banjar berdasarkan surat wasiat Sultan Adam Al Watsiqubillah.

Puncaknya ditandai dengan Haji Gusti Saaluddin menjadi Pamayung Sultan Banjar ketika Penabalan Pangeran Hidayatullah sebagai Sultan Banjar di Amuntai Sungai Banar.

Bergabungnya beliau di barisan Pejuang Banjar menimbulkan kerisauan dan kegusaran di kalangan pemerintah hindia belanda karena beliau dianggap salah satu sosok yang berpengaruh menjadi panutan di wilayah Banua Lima saat itu.

Kedudukannya sebagai seorang Penghulu serta merta dicopot pemerintah hindia belanda secara sepihak. Disebabkan mereka murka sekali setelah mengetahui keputusannya yang dianggap membangkang kepada Pemerintah Hindia Belanda, sampai-sampai gelar gustinya pun dihapuskan oleh Pemerintah Belanda.

Kampung Balimau dijadikannya tempat persembunyian dan pusat perjuangannya melawan penjajah karena letaknya yang strategis, sekaligus juga dekat dengan keluarga dan pusara salah satu gurunya yaitu Syekh Ahmad bin H. Muhammad As’ad Balimau.

Syekh Ahmad bin Muhammad As’ad bin Syarifah binti Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Hubungan kekerabatan keluarga kesultanan dan keluarga Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari atau Datu Kalampayan sudah terjalin lama. Sejak Syekh Muhammad Arsyad disekolahkan ke Mekkah oleh Sultan Tahlilullah Kemudian setelah datang dari Mekkah, Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari dikawinkan dengan Ratu Aminah binti Pangeran Thaha bin Sultan Tamjidillah, yang banyak melahirkan ulama-ulama besar tidak hanya di Banua Banjar tapi juga Kalimantan.

Haji Gusti Saaluddin di kampung ini menyamar sebagai seorang pengemis yang oleh masyarakat zaman itu disebut Labai sehingga membuat prajurit belanda terkecoh, sulit menemukan keberadaannya yang selalu berpindah-pindah tempat.

Dan juga di lain waktu sering wajah dia dihinggapi binatang lebah lalu membentuk seperti janggut yang menutupi wajah Haji Gusti Saaluddin. Hingga masyarakat ada yang menyebut dia Datu Labah.

Haji Gusti Saaluddin memiliki beberapa orang anak yang diketahui ada 4 orang anak yaitu Abahnya Gusti Arfan,Gusti Biduri,Gusti Madari, dan Gusti Jawiyah. Namun dari cerita tutur dzuriyyat beliau yang ada di Balimau dan Danau Panggang.

Masih banyak anak-anak Datu Labah dari istri lainnya seperti di antaranya Gusti Shofiyyah yang menikah dengan Datu Panjang (gelar) menurunkan dzuriyyat di Desa Karang Paci seperti Suanang, Amin, Jumintan dan Ampal.

Sebelum wafat beliau berdoa kepada Allah SWT untuk diberikan pahala Fii Sabilillah 7 turunan kepada dzuriyyat-dzuriyyatnya.

Ketokohan beliau sangat masyhur hingga setelah wafatnya, dari cerita turun temurun dari salah seorang dzuriyyatnya bahwa Haji Gusti Saaluddin berwasiat sebelum meninggal apabila sampai masanya perang berkepanjangan maka ambil lah sedikit bagian dari tanah di sekitar makam beliau untuk dijadikan “syarat” saat hendak pergi berperang.(RA)

 1,247 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: