SuarIndoenesia – KH Ahmad Syairazi, yang salah satu murid dari Syekh H. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Abah Guru Sekumpul), hasil Musyawarah Daerah (Musda) XI MUI Kalsel, terpilih menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) periode 2026-2031.
Musda) digelar di pendopo Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) Kalsel, dihadiri Sekdaprov Kalsel Muhammad Syarifuddin Bupati HSS H Syafrudin Noor.
“Forum musda bukan sekadar agenda organisasi lima tahunan, melainkan ruang strategis untuk merumuskan arah gerak MUI ke depan di tengah dinamika zaman yang terus berkembang,” kata Bupati HSS dalam sambutan kegiatan, Minggu (15/2/2026).
Pihaknya berterima kasih dan menyampaikan penghargaan atas kiprah MUI, yang selama ini konsisten membimbing umat serta menjaga harmoni kehidupan beragama di daerah.
Menurut dia, tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini semakin beragam, mulai dari persoalan sosial dan ekonomi hingga derasnya arus informasi di era digital.
Karena itu, keberadaan ulama dinilai semakin penting sebagai penuntun moral sekaligus penyejuk di tengah kehidupan bermasyarakat.
“Peran ulama sangat dibutuhkan untuk menjaga nilai-nilai keagamaan sekaligus memperkuat persatuan umat. Pemkab HSS akan terus berkolaborasi dengan MUI untuk menjaga kerukunan beragama,” ucap bupati.
Sementara itu, Sekdaprov Kalsel Muhammad Syarifuddin, menekankan bahwa hubungan yang harmonis antara ulama dan pemerintah selama ini telah memberikan kontribusi nyata terhadap stabilitas dan pembangunan daerah.
Pihaknya pun berharap kemitraan tersebut semakin diperkuat, agar mampu menjawab berbagai persoalan sosial kemasyarakatan.
“Sinergi ulama dan umara harus terus dijaga dan diperkuat demi kemaslahatan masyarakat,” tambahnya.
Diketahui, KH Ahmad Syairazi, yag juga dikenal akrab Tuan Guru H.Ahmad Syairazi, adalah pemimpin Ponpes Dalam Pagar Kandangan Terpilihnya Guru Syairazi otomatis nantinya menggantikan Ketua MUI sebelumnya, KH Husin Naparin.
Pria kelahiran Kandangan 10 januari 1976, yang merupakan anak dari pasangan suami isteri H.Pandi Mukeri dan Hj.Kaptiah Jalil ini, menuntut ilmu sejak kecil hingga belajar sampai ke Makkah.
Ketika berusia 6 tahun beliau sekolah di SDN Kandangan Kota 6 dan saat berusia 10 tahun beliau belajar sekolah arab di Madrasah Darul Ulum Pandai Kandangan.
Saat itu belajar Al Qur’an dengan seorang guru yang bernama H. Ahmad Shagir, Karang Jawa, Kandangan. Atas anjuran dan nasehat Tuan Guru H. Zainuddin (Guru Inud), Tibung, Kandangan supaya belajar di pesantren Dalam Pagar Martapura, maka ketika berusia 13 tahun beliau mulai belajar dan memondok di sana untuk memperdalam lagi ilmu agama.
belajar dengan sejumlah guru. Diantaranya, Tuan Guru H. Hamzah, Tuan Guru H. Ahmad Kasyfuddin, Tuan Guru H. Abdul Hamid, Tuan Guru H. Mahmud, Tuan Guru H. Nuzhan, Tuan Guru H. Abdul Majid dan Tuan Guru H.M. Mazani.
Tak hanya itu, lainnya, Tuan Guru H. Abdul Murid, Tuan Guru H. Abdul Halim, Tuan Guru H. Hifni Afif, Tuan Guru H.M. Fadhil Zain , Tuan Guru H.M. Sya’rani, Tuan Guru H.M. Mahjuri, Tuan Guru M. Fauzi, Tuan Guru H.M. Nuhdi, Tuan Guru H. Zainal Ilmi, Tuan Guru H.M. Arif, Tuan Guru H.M. Syaifullah, Tuan Guru H. Fadlan, Tuan Guru H.Bustami, Tuan Guru H. Munawar (Guru Kubah) dan lain-lain.
Pada tahun 1991 beliau pindah ke Sekumpul untuk memperdalam ilmu agama dengan seorang ulama terkenal kharismatik Syekh H. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Abah Guru Sekumpul) dan juga selalu hadir dalam majlis pengajian Guru Seman Mulya (Guru Padang ).
Pada tahun 1993 atas petunjuk dan nasehat seorang ulama di Kandangan keturunan dari Datu Kelampayan (Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari) yaitu Tuan Guru H. Abdus Samad Al Arsyadi, agar beliau meneruskan belajar ke Makkatul Mukarramah untuk memperdalam ilmu agama.
Berangkatlah beliau ke tanah suci Makkah untuk lebih menambah atau memperkaya lagi ilmu agama yang sudah ada.
Pada tahun 2010 beliau pulang ketanah air (kampung halaman), Kandangan atas isyarat Guru beliau Abah Guru Sekumpul, Abuya Sayyid Muhammad bin Alwi Almaliki dan Al Habib Abdullah bin Abu Bakar Athas Al Habsyi Al Makki untuk membuka majelis dan pondok pesantren.
Tak berapa lama berdirilah pondok pesantren Dalam Pagar, Madrasah Diniyah Taklimiyah Al-Busyra dan Majelis Ta’lim Raudhatul Ghanna Annabawiyah, di Kandangan. (*/ZI)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















