Suarindonesia – Pembangunan Restoran Terapung di Sungai Martapura yang mencontoh Pemerintah Pelembang, meski dibiayai gabungan Koperasi tetapi masih berjalan.
Bahkan pembangunan Restoran Terapung yang sempat jadi bahan guyonan Pemerintah Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, karena menurut mereka pembangunan berkonsep terapung itu membutuhkan biaya yang sangat tinggi kini sudah mulai pemasangan rangka atap.
“Alhamdulillah sekarang Restoran Terapung meski berat pembangunan terus dilaksankaan dan kini sudah masuk rangka atap. Mudah-mudahan bisa selesai yang dijualkan dan 24 September diresmikan,’’ ucap Ketua Dewan Koperasi Indonesia Daerah Kota Banjarmasin Sumarno di Banjarmasin kepada awak media, Minggu (14/07/2019).
“Kita tetap komitmen pembangunan Restoran Apung bisa selesai dan diresmikan operasionalnya pada peringatan hari jadi ke-493 kota, tepat pada 24 September nanti,” ucap Sumarno optimis kalau pembangunan Restoran Apung bisa diwujudkan.
Dia mengatakan, pembangunan restoran apung di atas sebuah kapal tongkang tersebut membutuhkan biaya besar, yakni, sekitar Rp1 miliar. “Dana yang kita miliki tidak mencukupi lagi, yang ada baru sekitar setengahnya,” tutur Sumarno.

Menurutnya, pembangunan restoran apung yang akan bertempat di siring Sungai Martapura depan Balai Kota Banjarmasin tersebut murni dari dana gotong royong sebanyak 19 koperasi.
“Pemerintah Kota Banjarmasin hanya membantu tempat atau mengizinkannya beroperasi di depan Siring Sungai depan balai kota,” katanya.
Dia mengatakan, pihaknya di koperasi harus mengadakan sebuah kapal tongkang yang cukup mahal, yakni, Rp340 juta sebagai tempat restoran apung tersebut.
“Ini pun dihargai kapal tongkang itu senilai besi bekas, karena kalau dihitung betul-betul harga perkilogramnya, bisa mencapai Rp700 juta, jadi sebenarnya harganya itu murah,” ujarnya.
Sebab, lanjut Sumarno, kapal tongkang bekas yang mereka beli tersebut dengan diameter 10×30 meter.
Dia mengaku belum mengetahui konsep restoran apung tersebut nantinya seperti apa, namun menurutnya akan sangat terjangkau.
“Kita akan berupaya harga menu makanan di sana terjangkau, sehingga semua lapisan masyarakat bisa berkunjung,” katanya.
Namun yang pasti, kata Sumarno, tidak hanya masalah ekonomi adanya restoran apung ini, tapi juga mendukung pariwisata kota.
“Sementara di Palembang pembangunan Retoran Terapung menghabiskan biaya Rp15 miliar. Sedangkan kita tidak sebesar itu. Bahhkan kami tidak memakai anggaran APBD, karena dana pembangunan restoran terapung berasal koperasi gabungan,” demikian Sumarno.(SU)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















