SuarIndonesia – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Selatan melalui UPTD Museum Waja Sampai Kaputing (Wasaka) menggelar Lomba Edukatif Kultural Mading Tiga Dimensi (3D).
Kegiatan resmi ditutup pada Kamis (23/7/2026) dan Kepala Seksi Cagar Budaya dan Permuseuman Disdikbud Kalsel, Arry Risfansyah, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas partisipasi dan semangat para peserta selama kompetisi berlangsung.
Pihaknya berharap hasil karya mading 3D yang telah dibuat tidak berhenti sebagai ajang perlombaan semata, melainkan dapat terus difungsikan di lingkungan sekolah masing-masing.
“Kami sangat mengapresiasi antusiasme para peserta yang aktif mempelajari sejarah revolusi fisik Kalimantan Selatan.
Kami berharap karya mading 3D ini dapat dimanfaatkan kembali di sekolah sebagai media pembelajaran sejarah yang kreatif dan komunikatif bagi para siswa,” ujar Arry Risfansyah dalam sambutannya.
Berdasarkan hasil penilaian objektif dari dewan juri yang meninjau aspek keakuratan
sejarah, kreativitas, keunikan, serta kemampuan penyampaian pesan, SMAN 7 Banjarmasin berhasil keluar sebagai Juara I. Posisi Juara II diraih oleh SMA Frater Don Bosco Banjarmasin, disusul SMAN 2 Banjarmasin sebagai Juara III.
Sementara itu, kategori juara harapan masing-masing diraih oleh SLBN 3 Banjarmasin
sebagai Juara Harapan I, SMAN 1 Mandastana sebagai Juara Harapan II, dan SMAIT Ukhuwah Banjarmasin sebagai Juara Harapan III.
Dewan juri mencatat secara umum karya-karya yang ditampilkan telah menunjukkan tingkat kreativitas dan estetika visual yang sangat baik.
Kendati terdapat beberapa catatan evaluasi terkait penyajian dan akurasi histori, kompetisi ini dinilai berhasil
menjadi pemicu kesadaran sejarah dan literasi budaya di kalangan pelajar tingkat menengah.
Perhelatan berlangsung selama tiga hari tersebut diikuti secara antusias oleh 16 perwakilan SMA, SMK, dan SLB se-Kalsel.
Kegiatan ini dirancang sebagai wadah edukasi sejarah yang interaktif bagi generasi muda, khususnya dalam memahami secara mendalam jejak perjuangan dan revolusi fisik masyarakat Kalimantan Selatan.
Melalui visualisasi mading tiga dimensi, para siswa diajak merekonstruksi peristiwa bersejarah menjadi karya seni visual yang bernilai edukatif.(RW)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















