SuarIndonesia — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan hanya soal titik api yang harus dipadamkan. Di Kalimantan Barat (Kalbar), para relawan juga berhadapan dengan warga yang terjebak asap, anak-anak yang ikut terpapar hingga risiko kesehatan mereka sendiri setelah berhari-hari turun ke lapangan.
Selama lebih dari 70 hari, relawan Pray for Kalimantan berjibaku menangani karhutla di Kubu Raya, Kota Pontianak, Ketapang hingga Kayong Utara. Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi mereka terjadi ketika seorang warga menelepon meminta bantuan karena lahan di belakang rumahnya terbakar, sementara di dalam rumah terdapat bayi.
Peristiwa itu diceritakan relawan Pray for Kalimantan, Asrul Putra Nanda. Kala itu sekitar pukul 23.00 WIB, laporan dari warga di Parit Demang Ujung, Kota Pontianak masuk ke tim. Warga meminta pertolongan karena tidak tahu harus membawa bayinya ke mana di tengah kepungan asap.
“Bang, kami punya bayi. Di belakang dapur atau belakang lahan rumah kami terbakar. Kami tidak tahu harus ke mana,” kata Asrul menirukan ucapan warga yang hendak ditolongnya.
Asrul bersama rekan sesama relawan lain kemudian bergerak ke lokasi. Api terlihat cukup besar, sementara asap mengepung rumah warga pelapor.
“Di situ saya merasa bahwa bukan hanya lahan terbakar yang harus kita pikirkan. Ada bayi, balita, dan anak-anak yang terpapar asap akibat kebakaran lahan. Mereka sebenarnya tidak tahu harus mengadu ke mana,” cerita Asrul, sebagaimana dilansir dari detikKalimantan.

Saat itu, cerita Asrul, tim memadamkan api di samping dan belakang rumah warga hingga sekitar pukul 01.00 WIB. Menurut Asrul, evakuasi juga tidak sederhana karena saat itu hampir seluruh wilayah terdampak kabut asap dan kualitas udara berada dalam kondisi yang membahayakan.
“Kita hanya bisa memastikan api yang berada di samping maupun di belakang rumah mereka bisa kita padamkan,” ujarnya.
Kisah dan tantangan lainnya, ketika titik api berada jauh dari akses terdekat. Asrul mengatakan, titik api terjauh yang pernah mereka tangani berjarak sekitar 400-500 meter. Dengan panjang satu selang sekitar 20 meter, relawan membutuhkan sekitar 30-40 selang untuk mencapai lokasi karhutla dengan sumber air.
“Selang harus dibawa dan dihamparkan satu per satu menuju titik api,” katanya.
Setelah api padam, pekerjaan belum selesai. Relawan yang sudah kelelahan masih harus menggulung seluruh selang dan membawanya kembali.
“Setelah api padam, teman-teman yang sudah letih masih harus menggulung seluruh selang dan membawanya kembali,” katanya.
Evakuasi Hingga ke Taman Nasional
Asrul mengatakan, relawan bergerak berdasarkan laporan dan kebutuhan pemadaman, tanpa membedakan siapa pemilik lahan yang terbakar.
“Kami tidak pernah melihat ini lahan siapa, punya siapa, apakah perusahaan, konsesi, atau lainnya. Kami tidak pernah melihat itu,” ujarnya.
Salah satu lokasi yang pernah didatangi Asrul adalah Taman Nasional Gunung Palung, tepatnya sektor dua. Di kawasan tersebut, ia melihat dampak kebakaran bukan hanya terhadap lahan, tetapi juga satwa yang berada di dalamnya. Orang utan, bekantan, monyet dan satwa lainnya ikut menghadapi ancaman kebakaran.
“Saya menyaksikan sendiri dan menemukan bahwa satwa-satwa tersebut terlihat seperti panik menghadapi kondisi kebakaran saat itu,” tuturnya.
Selama lebih dari dua bulan, para relawan bergerak mengikuti laporan kebakaran. Sehingga para relawan juga harus memastikan logistik dan kesehatan tetap terjaga. Tim gabungan menyiapkan makanan, vitamin, buah-buahan, kebutuhan medis hingga ambulans.
“Yang sebelumnya hanya makan mi instan bisa mendapatkan makanan lainnya, vitamin, buah-buahan, dan kebutuhan lainnya,” kata Asrul.
Selama bertugas, sejumlah relawan mengalami gangguan kesehatan. Ada yang pingsan dan mengalami luka. Per Kamis (1/10/2026), relawan di Pontianak dan Kubu Raya sedang diistirahatkan. Mereka sudah menjalani pemeriksaan kesehatan oleh dokter. Sementara tim di Ketapang dan Kayong Utara masih bergerak.
“Teman-teman di lapangan hari ini masih berjibaku di Ketapang. Kalau di Kayong Utara, kita menjaga titik api di Bukit Peramas,” ujarnya. (*/ut)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















