Suarindonesia – Walikota Banjarmasin H Ibnu Sina dalam menghadiri undangan dari rumah demokrasi terkait dengan refleksi tiga tahun Banjarmasin Baiman mengaku belum mampu menyelesaikan Sentra Antasari. Hal ini diibaratkan sama dengan membuka Kotak Pandora.
“Kotak pandora itu sebuah perumpamaan kotak yang berisi penuh dengan berbagai macam permasalahan sehingga harus dibuka dengan penuh kehati-hatian sehingga tak bisa dilakukan dalam waktu dekat karena tak cukup waktu,’’ ucap Politis PKS saat hadir dalam berdiskusi bersama para pakar akademisi, dosen, aktivis, lintas agama bahkan para caleg untuk membedah Kota Banjarmasin dari berbagai hal, di Rumah Demokrasi Asuhan pengamat politik dari Uniska Dr Muhammad Prof DR Uhaib As’ad, Kamis (08/02/2019) sore.
Mantan anggota DPRD Kalsel ini juga mengatakan tidak hanya resiko moral, namun sanksi materil hingga mengancam keselamatan jiwa akan terjadi ketika Pemerintah Kota Banjarmasin gegabah untuk mengklaim status kepemilikan Pasar Sentra Antasari adalah milik pemerintah Kota Banjarmasin.
Demikian juga, masalah pemilik lahan, menurut Walikota, Pemko dinilai hanya memiliki Hak Pakai Lahan (HPL) tanpa bisa menggunakan dan mengambil bangunan yang berdiri di atasnya. Dan malangnya lagi HGB justru dimiliki oleh pihak Swasta PT Giri Jaladiwana.
“HGB ini masih aktif sampai tahun 2022. Oleh karena itu pemerintah tidak bisa dengan cepat proses untuk melakukan perbaikan di Pasar Sentra Antasari karena ada landasan hukum yang harus ditempuh dan ini sangat panjang prosesnya,” ucap Ibnu.
Namun, demikian menurut Ibnu Sina meskipun Pemko Banjarmasin hanya memiliki HPL tetapi Pemko sudah menempuh jalur hukum untuk melakukan LO (Legal Opinion) dan sudah mendapatkannya dari Kejaksaan Negeri Kota Banjarmasin.
Ibnu menyebutkan tiga poin dari LO yang diberikan oleh Kejari Banjarmasin, yaitu yang pertama perjanjian dianggap batal terkait perjanjian lama HGB dan HPL, yang kedua fasilitas publik diambil oleh pemko terkecuali bangunan, dan ketiga lakukan pendataan pedagang serta status kepemilikannya.
“Semua ini sudah kami lakukan. Namun kembali lagi semuanya menunggu proses hukum. Selain ada prosedur hukum ini kita juga akan berhadapan dengan cerita gelap yang masih bersarang di Pasar Sentra Antasari ini,” ungkap Ibnu Sina.
Lebih lanjut Ibnu mengaku kepengen sekali untuk menjadikan pasar Sentra Antasari menjadi milik Pemko Banjarmasin.
Namun kata Ibnu kembali lagi ada prosedur hukum yang harus ditaati dan harus berhati-hati dalam setiap langkah yang dijalani.
Walikota Banjarmasin Ibnu Sina mengaku, sengaja hadir berdiskusi bersama para pakar akademisi, dosen, aktivis, lintas agama bahkan para caleg untuk membedah Kota Banjarmasin dari berbagai hal. “Tadi kami sudah bicara panjang lebar dari A sampai Z. Tiga visi Banjarmasin Baiman juga dibedah. Masalah sampah, parkir, pasar, aspek hukum, ojek online. Ibarat menu makanan ini namanya gado-gado,” katanya.
Mantan Ketua DPW PKS Kalsel ini menambahkan, ada pertanyaan yang sangat mendasar dari Pak Sanusi yang menyinggung janji apa yang dilontarkan ketika mencalonkan diri menjadi walikota.
“Apa yang belum? Kita siap bantu. Itu kan menarik. Artinya ada solusi. jadi kita tidak hanya sebatas sampai pada diskusi yang kemudian menelanjangi hingga mengkritisi,” ujarnya.
Namun, bagi dia tak menjadi masalah. Sebab, ini merupakan forum resmi. Andaikata ada yang mau menghujat sekalipun, Ibnu memastikan tidak mengadukan.
“Karena memang ini disiapkan untuk terbuka. Asalkan kata Pak Uhaib, jika ingin mengkritiki hanya sebatas pada kebijakannya. Jangan sampai mengkritik masalah pribadi. Kalau masalah kebijakan, ayo silakan dikritisi,” pungkasnya.
Pada diskusi dipandu moderator Syukrowardi berpikir, untuk menjadi calon anggota dewan mesti menggelorakan semangat demokrasi dengan cara beradu ide dan pikiran. “Jangan beradu siapa yang memberi dan siapa yang jadi pemenang,” katanya.
Caleg Golkar ini mencoba mengempes bahwa demokrasi atau menjadi anggota dewan itu tidak harus mahal jika bisa berdebat bisa berdiskusi dengan para petinggi-petinggi untuk mengeluarkan ide dan gagasan. Bahkan berani mengontrol.(SU)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















