SuarIndonesia — Gregoria Mariska Tunjung kalah dari Akane Yamaguchi pada babak perempat final All England 2024 di Utilita Arena, Birmingham, Jumat (15/3/2024) sore.
Setelah meraih dua poin beruntun pada awal gim pertama, Gregoria melakukan sederet kesalahan yang merugikan. Yamaguchi tak hanya bisa mendulang poin pembuka dan menyamakan skor tetapi juga menyalipnya.
Pengembalian yang membentur net, keliru dalam mengamati letak bola jatuh, dan pukulan yang membuat shuttlecock jatuh di luar bidang permainan membuat Gregoria tertinggal 2-11 pada interval gim pertama.
Poin Gregoria baru bertambah pada paruh kedua gim pertama. Setelah Yamaguchi meraih poin ke-12, Gregoria meraih poin beruntun.
Sisi kiri belakang Yamaguchi menjadi titik incaran Gregoria. Skor menjadi 7-12 sampai kemudian pukulan Gregoria membuat bola keluar.
Yamaguchi menambah tiga poin. Gregoria kemudian membalas dengan mengumpulkan tiga poin juga dan skor menjadi 10-15.
Upaya Gregoria memangkas jarak kembali terkendala dengan kesalahan-kesalahan yang dilakukannya. Yamaguchi kemudian melesat dan Gregoria kalah 10-21 pada gim pertama.
Pada awal gim kedua Gregoria berupaya tak mengulang kesalahan. Sempat tertinggal 1-3, Gregoria menampilkan kualitas yang bagus dalam menyerang dengan pukulan-pukulan yang mengecoh. Gregoria berbalik memimpin 5-3.
Dalam kondisi tertinggal, Yamaguchi berupaya menyerang. Hasilnya tiga poin beruntun diraih sehingga Gregoria tertinggal 5-6.
Setelah itu Gregoria dan Yamaguchi saling bergantian meraih poin. Yamaguchi ungul satu poin, dibalas poin Gregoria yang membuat skor imbang. Gregoria lantas memimpin 11-9 pada interval gim kedua.
Gregoria memimpin 13-9, namun jarak kemudian dipangkas Yamaguchi yang meraih tiga poin beruntun. Selisih satu poin di antara kedua pemain terjaga hingga skor 15-14. Kejelian dan kesabaran membuat Gregoria menjauh menjadi 17-14.
Pemain pelatnas PBSI itu tak bisa menjauh. Yamaguchi yang bermain ofensif kemudian meraih empat poin beruntun dan berbalik memimpin. Gregoria merespons dengan smes tajam ke sisi kanan yang membuat skor 18-18.
Yamaguchi kemudian meraih dua poin tambahan sehingga Gregoria tertinggal 18-20. Gregoria bisa menyamakan kedudukan menjadi 20-20. Serangan Gregoria lantas membuahkan poin-poin kemenangan. Gregoria menang 22-20 pada gim kedua.
Gregoria membukukan keunggulan 2-0 pada awal gim penentuan. Sama seperti gim sebelumnnya, Yamaguchi tak tinggal diam. Duel alot langsung tersaji pada awal gim ketiga yang terlihat dari selisih tipis di antara kedua pemai.
Gregoria dituntut bermain benar-benar rapi dan apik untuk meraih poin melawan Yamaguchi. Pengembalian silang dan serangan berkualitas Gregoria membuatnya memimpin 7-5, namun Yamaguchi kemudian memaksa Gregoria melakukan kesalahan.
Putri Wonogiri ini hanya unggul 11-10 pada interval gim ketiga. Pada saat interval, Gregoria meminta tolong kepada pelatih Herli Djaenudin agar mengingatkannya tetap tenang saat memimpin.
Gregoria yang tampil sabar menghasilkan pukulan-pukulan yang berbuah poin. Skor sempat menjauh pada kedudukan 15-12.
Sesaat setelah tertinggal 16-17, Gregoria meminta perawatan medis untuk penyemprotan pereda nyeri untuk kaki kanannya.
Dua pukulan pendek yang gagal membuat Gregoria tertinggal 16-19 dari Yamaguchi. Gregoria tak menyerah dan meraih poin ke-17 dan kemudian menggagalkan championship point pertama Yamaguchi. Skor menjadi 18-20.
Gregoria berupaya meraih poin lanjutan, namun Yamaguchi menutup pertandingan dan membuat Gregoria kalah 18-21.

Gregoria Mariska Tunjung tak bisa membendung rasa kesal dan air mata setelah kalah dari Akane Yamaguchi pada babak perempat final All England 2024 di Utilita Arena, Birmingham, dilansir CNNIndonesia, Jumat (15/3/2024) sore.
Gregoria dan Yamaguchi bermain sengit dalam laga tiga gim yang berdurasi 62 menit. Gregoria kalah 10-21 pada gim pertama dan kemudian berbalik menang 22-20 pada gim kedua. Skor 21-18 untuk Yamaguchi pada gim ketiga memastikan langkah Gregoria terhenti.
Poin terakhir kemenangan Yamaguchi terbilang kontroversial lantaran ada lampu kilat dari arah tribune penonton.
Lampu kilat tersebut muncul ketika Gregoria berupaya mengembalikan bola yang diarahkan Yamaguchi ke sisi kiri depan bidang permainan.
Gregoria bisa menjangkau bola, namun tidak mengangkat shuttlecock melewati net lantaran melihat kilatan cahaya.
Hal tersebut membuat poin Yamaguchi bertambah dari 20 menjadi 21 sekaligus memastikan kemenangan pada gim ketiga.
Gregoria tidak menerima keputusan juri dan berkeras cahaya lampu kilat mengganggunya, namun sang pengadil bergeming tetap pada pendiriannya. Gregoria dinyatakan kalah.
Sesaat setelah itu Gregoria tampak kesal dan tak bisa menyembunyikan rasa kesal dengan menangis.
Gregoria kemudian menenangkan diri dan menyalami Yamaguchi, juri, serta hakim servis.
Sejurus kemudian Gregoria tampak menangis lagi ketika pelatih Herli Djaenudin menghampirinya.
Insiden lampu kilat tak cuma sekali saja terjadi dalam laga Gregoria vs Yamaguchi. Pada gim ketiga sebelum poin kemenangan Yamaguchi yang kontroversial, Gregoria juga sempat meminta agar penonton tidak menyalakan lampu kilat ketika hendak melakukan servis.
Pada momen itu juri menegaskan ke penonton agar penonton tidak menyalakan lampu kilat.
Dalam arena badminton, penonton dilarang menggunakan lampu kilat karena bisa mengganggu fokus pemain di lapangan. [*/UT]
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















