SuarIndonesia — Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Kalimantan Tengah (Kalteng) menekankan upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tak sekadar berfokus pada pemadaman api, akan tetapi juga pencegahan kebakaran.
“Penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman ketika api sudah muncul, tetapi juga pada upaya pencegahan maupun pembasahan untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api,” kata Kepala Pelaksana BPBPK Kalteng Ahmad Toyib di Palangka Raya, Rabu (23/9/2026).
Selain pemadaman dan patroli, langkah pembasahan menjadi bagian penting dalam penanganan kawasan yang berpotensi terbakar kembali. Upaya tersebut dilakukan untuk menekan potensi munculnya kembali api, terutama pada wilayah dengan karakteristik lahan gambut.
Pemprov setempat terus memperkuat penanganan di lapangan dengan mengoptimalkan personel dan sarana prasarana yang tersedia.
“Pemantauan titik panas dan kondisi wilayah kami lakukan secara berkelanjutan, sehingga setiap potensi karhutla dapat segera ditindaklanjuti,” kata Toyib, melansir dari Antara.
Berdasarkan data harian BPBPK Kalteng per 22 September 2026, pukul 18.00 WIB, tercatat 8.093 titik panas, dengan 88 karhutla dan luas area terbakar 195,57 hektare.
Data tersebut dihimpun berdasarkan pemantauan titik panas dari BRIN dan Sipongi serta laporan kejadian dan luas area terbakar dari kabupaten/kota kepada Pusdalops BPBPK Kalteng.
Sejumlah wilayah tercatat memiliki titik panas cukup tinggi. Pulang Pisau mencatat 2.381 titik panas, Kotawaringin Timur (1.292), Seruyan (1.288), Kapuas (764), Kotawaringin Barat (869), dan Katingan (460).
Dari sisi kejadian, Kotawaringin Timur menjadi salah satu wilayah dengan jumlah kejadian tertinggi, yakni 18 kejadian dengan luas area terbakar 12,78 hektare. Kapuas tercatat 13 kejadian dengan luas 31,25 hektare, Murung Raya 11 kejadian dengan luas 10,32 hektare, serta Seruyan 11 kejadian dengan luas 31,71 hektare.
Kondisi tersebut menjadi perhatian BPBPK Kalteng terus meningkatkan kesiapsiagaan, khususnya melalui penguatan koordinasi, pemantauan titik panas, patroli serta penanganan di lapangan.
“Kondisi lahan gambut menjadi salah satu tantangan dalam penanganan karhutla karena api dapat menjalar di bawah permukaan dan kembali muncul apabila proses pembasahan tidak dilakukan secara optimal,” katanya.
Oleh karena itu, upaya penanganan harus dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan seluruh unsur terkait, mulai dari pemerintah daerah, TNI, Polri, Manggala Agni, masyarakat hingga unsur penanggulangan bencana lainnya.
“Kunci penanganan karhutla adalah kecepatan informasi, kecepatan respons dan kesinambungan penanganan. Ketika ada indikasi titik api, kita harus segera bergerak agar tidak berkembang dan meluas,” kata Ahmad Toyib. (*/ut)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















