PERBAIKI SENDIRI Jalan Rusak Tergerus Air, Lambat Tunggu Perbaikan Pemerintah

Bagikan :
PERBAIKI SENDIRI Jalan Rusak Tergerus Air, Lambat Tunggu Perbaikan Pemerintah

SuarIndonesia — Puluhan tahun sudah ruas jalan lingkungan di Jalan Simpang Pengambangan, Kecamatan Banjarmasin Timur rusak parah, akibat tergerus air sungai yang pasang.

Jika dihitung-hitung, panjangnya kerusakan mencapai 160 meter. Menghubungkan tiga rukun tetangga (RT). Yakni RT 9, RT 10 dan RT 28. Bukan lagi hanya tergenang air, ruas jalan itu kini memang sepenuhnya menghilang.

Namun, lantaran sudah terlalu lama dibiarkan begitu saja, menunggu tanpa adanya sentuhan perbaikan, warga setempat pun akhirnya mengambil sikap.

Yakni patungan atau urunan untuk membangun sendiri titian darurat.

Hal itu dilakukan lantaran tak ingin terus mengeluh dengan keadaan, beberapa pekan ke belakang, warga tiga RT pun urunan secara sukarela.

Terkumpul dana sebanyak Rp2 juta. Dana itulah yang digunakan untuk membeli material untuk membangun titian.

“Selesainya, sekitar tiga pekan yang lalu,” ucap salah seorang warga yang enggan disebut namanya, Jumat (4/2/2022).

“Kalau mau melihat nota-nota lengkap pembelian material, ada di rumah saya,” tambahnya.

Dari hasil pantauan, titian dibangun dengan memakai pondasi batang Kayu Galam. Untuk lantai juga memakai papan berbahan kayu galam.

Baca Juga :

HARUS BERSABAR Warga Pulau Bromo, Karena Perbaikan Titian Baru Diusulkan di APBD Perubahan

Perbaikan sendiri diketahui mencapai 160 meter. Namun tentu, perbaikan yang dilakukan tidak bisa bersambung dengan perbaikan titian yang dibiayai oleh Gubernur Kalsel, Sahbirin Noor, sewaktu mencalonkan diri untuk periode kedua.

Menurutnya, perbaikan dilakukan dengan semaksimalnya oleh masyarakat di sini dengan bahan seadanya. Yang penting, warga bisa nyaman melintas.

“Kami hanya merasa kasihan dengan pengguna jalan. Kalau dibiarkan lama-lama, khawatirnya ada banyak korban yang jatuh,” tutup warga RT 28 itu.

Hal senada juga diungkapkan warga lainnya, yakni Masliah. Wanita 51 tahun itu menuturkan, tak sedikit warga yang merasakan imbas dari rusaknya Jalan Simpang Pengambangan.

“Sudah puluhan tahun tidak diperbaiki. Padahal, akses jalan lingkungan ini cukup vital. Mengingat juga dimanfaatkan anak-anak setempat untuk pergi ke sekolah,” tambahnya.

Ia mengeluhkan kondisi jalan yang selalu tergenang setiap fase pasang tinggi air sungai tiba. Pasalnya, saat fase pasang tiba, otomatis jalan yang sudah akak ambruk tersebut terendam air.alias calap.

“Kalau sudah calap, anak pasti perlu menyingsingkan celana atau roknya bila hendak melintas. Itu pun, hanya di bagian pinggir jalan. Tidak bisa lagi ke tengah jalan, sudah tidak bisa dilewati,” keluhnya.

Dia pun membenarkan, bahwa dana yang dipakai untuk pembuatan titian, hasil dari urunan sukarela.

“Seribu, dua ribu, terserah. Seikhlasnya. Syukurlah sudah ada titian ini. Setidaknya kami merasa sedikit nyaman ketika melintas. Semoga nantinya pemerintah tergerak membangunkan titian yang lebih baik,” tutupnya.

Limpasan air sungai di Jalan Simpang Pengambangan memang tergolong parah. Secara keseluruhan, panjang ruas jalan yang terdampak mencapai 310 meter. Keseluruhan jalanan seperti ‘hilang’ ditelan air.

Limpasan air juga sewaktu-waktu menghantam dinding sebagian rumah warga.

“Bila air pasang, air pasti masuk ke rumah. Habis sudah lantai ini,” tutur Idar, warga RT 28, sembari memilah sampah plastik.

Ada pun terkait perbaikan, sejatinya memang ada. Tapi hanya sepanjang 150 meter saja. Itu pun bukan dilakukan oleh Pemko Banjarmasin melalui dinas terkait. Gubernur Kalsel, Sahbirin Noor, membangunkan titian berbahan Kayu Ulin di situ.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Bidang Jalan dan PJU di Dinas PUPR Kota Banjarmasin, Agus Heri Jayadi, belum bisa dimintai keterangan lebih lanjut mengenai kapan perbaikan jalan lingkungan di Simpang Pengambangan itu diperbaiki.

Agus mengaku bahwa dirinya saat ini sedang sakit.

“Mohon maaf, saya sedang sakit, mas,” tulisnya melalui pesan singkat, ketika dihubungi awak media

Jika mengingat, Kepala Bidang (Kabid) sebelumnya, yakni Chandra (saat ini menjabat sebagai kabid drainase), menjelaskan bahwa pihaknya sudah mencanangkan perbaikan untuk kawasan tersebut di tahun 2021.

“Sudah kami coba anggarkan di tahun 2021. Dengan anggaran biaya Rp45 miliar,” ucapnya, pada tanggal 5 Oktober 2021 lalu.

Sayangnya, karena keterbatasan anggaran, pihaknya pun menurut chandra tak bisa mengerjakannya di tahun 2021 lalu.

Kendati demikian, Chandra menjanjikan bakal kembali mengusulkan perbaikan itu di tahun ini, alias di tahun 2022.(SU)

 316 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.