BEGINI Makna dari Festival Antasan Banjar 2026 “Re-connecting”

- Penulis

Senin, 7 September 2026 - 14:36 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Begini suasana pentas Festival Antasan Banjar 2026

Begini suasana pentas Festival Antasan Banjar 2026 "Re-Connecting"

 

Suarindonesi – Antasan Banjar 2026 “Re-Connecting” bukan sekadar festival. Jauh dari itu banyak makna yang terkandung dalam kegiatan yang berlangsung 4-6 September 2026 di Kawasan UPTD Taman Budaya Kalimantan Selatan, ini.

Antasan Banjar pertama kali hadir sebagai bagian dari Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) 2025 di Kalimantan Selatan. Pengalaman tersebut kemudian menjadi titik tumbuh bagi Antasan Banjar untuk berkembang sebagai festival dengan identitas dan perjalanan programnya sendiri.

Antasan Banjar dibangun dari kegelisahan untuk menghadirkan ruang yang memungkinkan musik tradisi tidak hanya ditempatkan sebagai warisan yang dipertunjukkan, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan yang dapat terus dibaca, dikembangkan, dan dihubungkan dengan praktik musik hari ini.

Melalui perjalanan tersebut, Antasan Banjar berkembang menjadi festival yang mempertemukan musik tradisi, musik etnik kontemporer, dan world music dengan pengetahuan kebudayaan Kalimantan Selatan, sebagai salah satu pijakannya.

Antasan Banjar 2026 “Re-Connecting” pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang panggung dan pertunjukan. Festival ini berupaya membangun hubungan antara tradisi, talenta, maestro, pendidikan, pemerintah, komunitas, ekonomi kreatif, dan jejaring musik.

Melalui Panggung Saka, gelar karya maestro, Lab-Batang Banyu, dan berbagai ruang pertemuan lainnya, Antasan Banjar menempatkan festival sebagai bagian dari proses panjang penguatan ekosistem musik tradisi Kalimantan Selatan.

Antasan Banjar 2026 “Re-Connecting” adalah ruang untuk mempertemukan kembali pengetahuan dan praktik, generasi dan tradisi, komunitas dan public ag.ar musik tradisi tidak hanya terus terdengar, tetapi juga terus tumbuh sebagai bagian dari kehidupan kebudayaan Banua

Festival ini menjadi ruang pertemuan antara musik tradisi, penciptaan kontemporer, talenta, maestro, komunitas, lembaga pendidikan, pemerintah, serta masyarakat dalam satu ekosistem kebudayaan.

Festival ini juga didukung sejumlah mitra strategis, yaitu Jurusan Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP ULM, Kesultanan Banjar, Indonesia World Music Series (IWMS), dan DPW GEKRAFS Kalimantan Selata

Kolaborasi lintas sektor tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan musik tradisi membutuhkan ekosistem yang mempertemukan pemerintah, pendidikan, komunitas, pelaku seni, dan sektor ekonomi kreatif.

Salah satu program utama Antasan Banjar 2026 “Re-Connecting” yang masuk kalender event Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalsel, ini adalah Panggung Saka 15 Kelompok Musik, yang mempertemukan kelompok-kelompok musik dari berbagai wilayah. Sebanyak 13 kelompok berasal dari Kalimantan Selatan, sementara dua kelompok lainnya berasal dari Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.

Kelompok yang terlibat dari Kalimantan Selatan, adalah Sanggar Campala Riza (Hulu Sungai Tengah), Sanggar Bima Cili (Hulu Sungai Tengah). Sanggar Karamunting (Hulu Sungai Selatan), Posko La Bastari (Hulu Sungai Selatan). Serangkai Mata (Tabalong), Sanggar Kemilau Intan (Kabupaten Banjar), AHMA Project (Kabupaten Banjar). Balahidang Etnika (Banjarmasin), Kuartal (Banjarmasin), dan Samudera Etnik Ansambel (Banjarmasin).

Baca Juga :   TERCATAT Kekayaan Intelektual Komunal Empat Ekspresi Budaya Tradisional Kalsel

Sementara itu, keterlibatan kelompok dari luar Kalimantan Selatan diwakili Pucuk Pakis dari Kalimantan Barat dan Petala Borneo dari Kalimantan Timur. Serta kelompok lain dalam rangkaian showcase yang memperluas perjumpaan musikal lintas wilayah.

Program Panggung Saka menjadi ruang apresiasi sekaligus pertemuan antarkelompok. Memperlihatkan beragam pendekatan mengolah pengetahuan tradisi menjadi praktik musikal yang hidup dan berkembang.

Antasan Banjar 2026 juga menghadirkan  Gelar Karya Maestro, melalui kolaborasi dengan UPTD Taman Budaya Kalimantan Selatan. Program ini menghadirkan maestro yang memiliki pengalaman panjang menjaga dan mengembangkan pengetahuan musik tradisi.

Salah satunya adalah Siti Maimunah, maestro vokal tradisi Basyair dan musik panting, yang merepresentasikan kekayaan tradisi musikal masyarakat Banjar.

Festival juga menghadirkan Meutuo Delis, maestro  sensapi dari masyarakat Dayak Deah. Yang membawa pengetahuan musikal dan karakter bunyi tradisi Dayak ke dalam ruang festival.

Kehadiran para maestro menjadi penting bukan hanya sebagai pertunjukan, tetapi sebagai bagian dari proses pewarisan pengetahuan. Festival mempertemukan pengetahuan yang hidup pada para maestro dengan generasi talenta dan publik. Sehingga tradisi dapat dipahami melalui pengalaman langsung, bukan semata-mata melalui dokumentasi.

Kehadiran kelompok dari luar Kalimantan Selatan menjadi bagian dari upaya Antasan Banjar untuk membangun jejaring musik yang lebih luas.

Pertemuan dengan Pucuk Pakis dari Kalimantan Barat dan Petala Borneo dari Kalimantan Timur. Serta kelompok lainnya seperti Lantunan Keroncong Banua dan TK Scoterist Reggae dari Banjarmasin. Memperlihatkan beragam kemungkinan perjumpaan musikal dalam lanskap kebudayaan Kalimantan.

Melalui jejaring tersebut, Antasan Banjar tidak hanya menjadi ruang presentasi karya, tetapi juga menjadi titik temu antarkomunitas dan antardaerah.

Pertukaran pengalaman, gagasan, dan praktik harapannya membuka peluang kolaborasi baru. Sekaligus memperkuat posisi musik tradisi dan musik etnik Kalimantan dalam jaringan yang lebih luas.

 

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

TERCATAT Kekayaan Intelektual Komunal Empat Ekspresi Budaya Tradisional Kalsel
LEBIH DARI 40 Karya Muslim Anang Abdullah di Taman Budaya Kalsel
DIBUKA Staf Ahli Gubernur Kalsel Festival Antasan Banjar 2026
DIGELAR 4-6 September Event Kebudayaan Antasan Banjar Festival 2026
DISIAPKAN LPDP Rp6 Triliun Dana Abadi Kebudayaan
DIINTENSIFKAN Disdikbud Kalsel Rencana Kenaikan Tipoligi Museum Lambung Mangkurat
MASUK ERA BARU Strategi Kebudayaan Kalsel jadi Inklusif
DIVISITASI Kemendagri Rencana Kenaikan Grade Museum Lambung Mangkurat

Berita Terkait

Minggu, 11 Oktober 2026 - 16:48

KECELAKAAN BERUNTUN di Kawasan Lingkar Utara Dipicu Kabut Asap

Minggu, 11 Oktober 2026 - 00:24

TERULANG KARHUTLA Melanda kawasan Golf Ujung Sekitar Bandara Internasional Syamsudin Noor

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 23:44

KAMPUNG NARKOBA Palangka Raya Digerebek Polisi

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 17:49

TEWAS TERLUKA, Pria Warga Kelayan B Ini Tergeletak di Depan Rumah Warga

Jumat, 9 Oktober 2026 - 22:08

DERBY BORNEO, Misi Bangkit Barito Putera v Persiba, Frans: ‘Haram’ Kalah di Kandang

Jumat, 9 Oktober 2026 - 21:38

TERSERANG ISPA: 47 Orang Utan Diterapi Nebulizer

Jumat, 9 Oktober 2026 - 20:56

DIATUR Tarif Pemeriksaan Kesehatan Haji

Jumat, 9 Oktober 2026 - 18:21

DOKUMEN TANAH RSUD H. Boejasin Disita Penyidik, Pemkab Tala Didesak Segera Bersikap

Berita Terbaru

Kalsel

DUA TEMPAT TERBAKAR, Menara Fried Chicken dan Jegger

Minggu, 11 Okt 2026 - 13:17

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca