SuarIndonesia — Saat sebagian warga beristirahat bersama keluarga, para petugas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, justru harus bersiap menghadapi kobaran api. Panggilan tugas bisa datang kapan saja, memaksa mereka meninggalkan rumah demi melindungi masyarakat dari ancaman kebakaran dan kabut asap.
Di balik perjuangan memadamkan api, ada keluarga yang menunggu dengan penuh kecemasan. Kekhawatiran semakin besar ketika petugas harus masuk ke kawasan hutan dengan medan berbahaya dan jaringan komunikasi yang terbatas.
Komandan Pleton (Danton) Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kobar, Dawi Al-Habsyie, mengatakan penanganan karhutla bukan pekerjaan mudah. Petugas harus menghadapi berbagai tantangan, mulai dari medan gambut yang tidak stabil, akses menuju titik api yang sulit, hingga kondisi cuaca yang berubah-ubah.
“Perjalanan menuju lokasi kebakaran terkadang harus ditempuh dengan berjalan kaki sambil membawa perlengkapan pemadaman. Jarak yang jauh dan kondisi medan yang berat menguras tenaga, terlebih ketika titik api berada di kawasan yang sulit dijangkau kendaraan,” ujar Dawi, Rabu (14/10/2026).
Belum lagi asap pekat yang mengganggu pernapasan. Perubahan arah angin juga dapat memengaruhi kondisi di sekitar lokasi kebakaran sehingga petugas harus terus meningkatkan kewaspadaan selama proses pemadaman berlangsung.
“Meski menghadapi risiko dan kelelahan, kami tidak berhenti pada upaya menjinakkan kobaran api. Kami juga berupaya mencegah kebakaran meluas agar asap tidak semakin mengganggu kehidupan masyarakat, mulai dari aktivitas anak-anak di sekolah hingga warga yang harus bekerja di luar rumah,” kata Dawi, melansir dari detikKalimantan.
Kepala Pelaksana BPBD Kobar, Samuel, mengatakan penanganan karhutla membutuhkan kerja sama berbagai unsur. Personel TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, dan relawan saling berkoordinasi untuk mempercepat penanganan kebakaran di lapangan.
“Dalam situasi penuh tantangan, kekompakan menjadi salah satu kunci. Setiap personel harus saling mengingatkan, memperhatikan kondisi rekan, serta memastikan keselamatan tetap menjadi prioritas selama menjalankan tugas,” ujarnya.
Bagi petugas, keberhasilan mengendalikan api dan melihat asap mulai berkurang menjadi hasil yang sangat berarti. Langit yang kembali cerah bukan sekadar perubahan pemandangan, melainkan harapan agar masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan nyaman tanpa terus dibayangi ancaman asap.
Ia menegaskan, upaya mengatasi karhutla tidak bisa hanya mengandalkan petugas di lapangan. Peran masyarakat juga diperlukan untuk mencegah kebakaran sejak awal.
“Warga kami tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Selain itu, kemunculan titik api perlu segera dilaporkan agar dapat ditangani sebelum kebakaran meluas dan semakin sulit dikendalikan,” ujarnya.
Ancaman karhutla juga tidak boleh dipandang sebatas persoalan lingkungan dan jarak pandang. Asap yang dihasilkan dapat mengganggu kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.
“Di tengah perjuangan memadamkan api, para petugas harus membagi perhatian antara menjaga keselamatan diri dan menjalankan tanggung jawab untuk melindungi orang lain. Sementara keluarga menanti mereka kembali ke rumah, para petugas terus berupaya menekan penyebaran kebakaran,” pungkas Samuel.
Perjuangan tersebut menjadi pengingat bahwa udara bersih dan langit biru membutuhkan kepedulian bersama. Bukan hanya melalui kerja keras petugas di lapangan, tetapi juga melalui kesadaran masyarakat untuk mencegah kebakaran agar ancaman asap tidak terus berulang di Kobar.
Siapkan Asuransi untuk Petugas Karhutla
Sementara itu, Pemprov Kalteng berencana memberikan perlindungan asuransi bagi petugas yang berjibaku menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah ini disiapkan sebagai bentuk perhatian terhadap para petugas yang menghadapi risiko saat berjuang memadamkan api di lapangan.
Rencana tersebut disampaikan Gubernur Kalteng Agustiar Sabran di Palangka Raya. Di tengah upaya penanganan karhutla yang terus dilakukan, ia menilai keselamatan dan perlindungan bagi para petugas juga menjadi hal yang perlu diperhatikan.
“Kami juga akan memberikan asuransi bagi pejuang-pejuang karhutla ini ya,” kata Agustiar, Rabu (14/10/2026).
Selain perlindungan bagi petugas, Agustiar menekankan pentingnya memperkuat sinergi antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat dalam menghadapi persoalan karhutla yang berdampak terhadap masyarakat maupun lingkungan. (*/ut)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















