SuarIndonesia — Komando Daerah Militer (Kodam) VI/Mulawarman menyiapkan Batalyon Pasukan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (PRCPB) satuan gabungan yang dirancang khusus untuk tanggap darurat kebencanaan.
“Batalyon komposit PRCPB disiapkan khusus untuk hadapi potensi bencana alam yang terjadi,” ujar Panglima Kodam VI/Mulawarman Mayor Jenderal TNI Rudy Rachmat Nugraha di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa (15/4/2025).
“Kalimantan dikenal sebagai wilayah rentan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tetapi kami juga tidak kesampingkan bencana banjir dan lainnya,” tambahnya.
Di Kodam VI/Mulawarman, Satuan PRCPB dipimpin Batalyon 17 Ananta Dharma dan diperkuat Yonif 600 Modang yang memiliki kemampuan tempur dan mobilitas tinggi, dan satuan Yonkav 13 Satya Lembuswana dengan keahlian dalam operasi khusus,
Kemudian juga diisi Kompi Kavaleri 3 Macan Tutul Cakti yang mendukung mobilitas dan logistik, serta unit pendukung termasuk unit kesehatan, perbekalan, komunikasi, dan hukum.
“Untuk keseluruhan prajurit sekitar 600 orang. Batalyon itu terdiri dari tiga kompi lapangan, satu kompi senapan, dan satu kompi pendukung,” jelasnya.
Batalyon PRCPB siap siaga selama enam bulan ke depan, lanjut Pangdam dengan kemampuan operasional 24 jam untuk memastikan respon cepat saat bencana melanda.
Penyiapan Batalyon PRCPB dilakukan sesuai perintah kerja Kepala Staf AD melalui surat telegram nomor 90 tanggal 11 Februari 2025, menegaskan pentingnya pembentukan batalyon komposit PRCPB di setiap kodam untuk merespons bencana dengan cepat dan efektif.
“Juga sesuai amanat Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI, operasi bantuan penanggulangan bencana merupakan salah satu tugas pokok TNI dalam operasi militer selain perang (OMSP),” tutur Pangdam Rudy dilansir dari AntaraNewsKaltim.
Dalam penanganan karhutla, Kodam VI/Mulawarman menyiapkan strategi komprehensif, meliputi penyiapan peralatan khusus, Satgas PRCPB dilengkapi alat pemadam kebakaran, pompa air, dan teknologi pendukung menangani karhutla, termasuk kebakaran gambut yang sulit dipadamkan.
Didukung sistem deteksi dini melalui Babinsa, Bhabinkamtibmas, BPBD, dan relawan masyarakat, serta Kodam VI/Mulawarman menerapkan sistem pemantauan digital 24 jam untuk mendeteksi titik api sejak dini. (*/ut)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















