Suarindonesia – Upaya Pemko Banjarmasin melakukan pembersihan sampah kiriman terus-terusan dilakukan. Meski sudah menurunkan pasukan Turbo untuk membersihkan Sungai Martapura, tetapi hingga Rabu (12/12/2018) kemarin, sampah masih menyumbat kolong Jembatan Antasari dan Jembatan Pasar Lama.
Bahkan melihat kondisi tersebut Sekdako Banjarmasom Drs H Hamli Kursani turun gunung dan ikut membaur bersama Pasukan Turbo komunitas yang setiap hari melakukan pembersihan Sungai Martapura yang dipenuhi ‘tuyuka ratik’.
Dinas PUPR Kota Banjramsin pun sudah menurunkan kapal sapu-sapu, untuk kembali dilemburkan mengatasi tumpukan sampah yang menutupi perairan sungai tengah kota.
Ada dua lokasi pembersihan yang dilakukan Pemko Banjarmasin, satu tempat di bawah Jembatan Pasar Lama dan yang lain disebar di bawah Jembatan Pasar Antasari (Sudimampir).
Sekdako Hamli Kursani dengsn mengenakan kaos panjang turut menghalau ‘daratan’ ilung (eceng gondok) 9bercampur ranting bambu, pohon dan batang pohon rumbia. Mereka berjibaku di bawah terik mentari.
Sebagian tumpukan sampah sungai itu dilarutkan, kemudian ditangkap kapal sapu-sapu. Selanjutnya, sebagian dibuang ke daerah Sungai Gampa.

Sedikit demi sedikit, jalur pun terlihat terbuka, meski hanya bisa dilintasi satu buah klotok. Sejak pagi hingga menjelang siang, Sekda Hamli Kursani dan Pasukan Turbo membersihkan tumpukan ilung dan sampah itu.
“Memang, tumpukan ilung bercampur ranting pohon dan bambu merupakan fenomena tahunan. Kalau tak salah tahun 2016 jauh lebih parah dibanding tahun sekarang. Ya, semua akibat faktor alam karena daerah hulu tengah tinggi debit airnya, hingga lari ke hilir sungai,” ucap Hamli Kursani kepada awak media.
Untuk mengatasi tumpukan ilung ini agar tak mengganggu jalur tansportasi sungai, Hamli mengatakan Dinas PUPR Banjarmasin menerapkan sistem kerja shift bergantian. “Setiap delapan jam, Pasukan Turbo diturunkan. Mereka diupah Rp100 ribu per hari,” katanya.
Menurut Hamli, untuk mengangkut volume sampah sungai yang begitu besar, sepatutnya ada tiga buah klotok yang disiapkan. Sedangkan, kapal sapu-sapu yang dioperasikan Pemko Banjarmasin hanya satu buah. “Jadi, tidak bisa mengatasi masalah ini dengan cepat,” ucap mantan Kepala Dinas Tata Kota Banjarmasin ini.
Karena itu ke depan, Hamli memastikan akan segera merencanakan strategi dalam mengatasi fenomena alam tahunan ini, sehingga tidak merugikan publik, terutama para pengguna moda transportasi sungai.
Sementara itu, para petugas pun menggunakan tali tambang untuk menarik balok kayu atau potongan pohon yang membentuk ‘delta’ itu. Begitu lolos dari Jembatan Pasar Lama, ‘daratan’ ilung bercampur ranting pohon dan bambu menumpuk lagi di bawah Jembatan Antasari hingga belum bisa terurai sepenuhnya.
“Memang, tumpukan ilung bercampur ranting pohon dan bambu, bahkan ada batang pohon cukup besar. Ya, semakin tinggi air di kawasan Sungai Tabuk, maka akan larut ke Sungai Martapura,” demikian Taufik salah satu anggota FKDM Kota Banjarmasin.(SU)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















