‘TUKANG TALI Paracord’, Sarat Prestasi, Minim Apresiasi

SuarIndonesia – Bagi kebanyakan orang, aktivitas simpul-menyimpul merupakan hal yang sangat membosankan dan ribet. Namun di tangan Surya, hal tersebut adalah sebuah seni yang tidak ada batasannya.

Seniman Paracord bernama lengkap Surya Tajudin itu menjadi orang pertama di Kalimantan Selatan yang membuka galeri seni ikat-mengikat tali paracord sekaligus menjadi tempat untuk menjual karyanya sejak tahun 2016, dengan nama Paraborneo.

Saat ini, galeri Paraborneo berlokasi di Jalan Perdagangan II nomor 17, Kelurahan Sungai Miai, Kecamatan Banjarmasin Utara, tepatnya satu bangunan dengan cafe Paradise.bdj.

Saat ditemui di galeri miliknya, pria dengan sapaan akrab Surya Muda itu terlihat sedang asyik menyimpul tali paracord dengan warga yang bervariasi menjadi tali jam tangan.

“Produk yang paling banyak dicari sampai sekarang kostumer adalah tali jam tangan. Untuk harga juga bervariasi, tergantung dengan variasi simpul yang dipakai,” ungkapnya kepada awak media, Kamis (23/06/2022) siang.

Selain itu, juga ada tali scarf masker yang dibuat dengan variasi simpul yang ramai dicari warga semenjak pandemi Covid-19 melanda Kota Banjarmasin.

Menurutnya, kreasi paracord sama dengan seni-seni lainnya yang tidak memiliki batasan, alias tergantung dengan imajinasi dari senimannya sendiri.

Benar saja , hal itu terbukti dengan banyaknya prestasi yang diraih Surya selama melakoni profesinya sebagai seniman paracord. Selama enam tahun berdiri surya sudah memenangi perlombaan seni paracord, tiga lomba nasional dan tiga lomba internasional.

'TUKANG TALI Paracord', Sarat Prestasi, Minim Apresiasi-2

“Karena paracord ini kan kelasnya memang sudah dunia, tiga lomba yang saya menangi itu di tahun 2018, 2019, dan terakhir 2021,” ungkapnya.

Ia menceritakan, lomba tingkat dunia yang ia menangi itu diramaikan oleh ratusan pengrajin paracord dari berbagai negara, dan berkat keuletannya ia berhasil meraih juara satu setiap kali lomba.

“Karena saya berhasil memenuhi rule dan model serta motif yang sudah ditentukan panitia. Alhamdulillah berhasil,” imbuhnya.

“Biasanya ada tiga jenis anyaman yang diminta, jadi tergantung kita memvariasikannya seperti apa,” tambahnya.

Meski sudah sering meraih penghargaan, Surya mengaku tidak pernah menaikkan harga untuk karyanya yang ingin dibeli kostumer.

“Proses pembuatannya juga tidak memakan waktu panjang. Paling lama tiga sampai empat jam untuk membuat gelang atau tali jam dengan motif yang rumit,” ujarnya.

Surya menceritakan, awalnya ia hanyalah pengrajin gelang dengan bahan tali prusik, namun lantaran jiwa seni yang ia miliki sejak muda, jiwa kreativitas yang tertanam dalam dirinya pun membuat ia memutuskan untuk tetus berinovasi.

“Karena karya dengan bahan paracord ini masih minim di Kalsel, bahkan di Indonesia pun hanya ada beberapa perajin. Makanya kita coba membangun Paraborneo di tahun 2016,” ungkapnya.

“Dan kawan-kawan di komunitas saya mendukung, itulah yang mendorong saya untuk terus mengembangkan seni ini,” tukasnya.

Selain tali jam, saat ini karya paracord yang ia buat juga bisa diaplikasikan untuk kalung, gantungan kunci, serta aksesoris lainnya.

“Sebenarnya karya seni yang memakai tali sebagai bahan utamanya bisa digunakan untuk apa saja. Karena tali itu sifatnya lebih fleksibel. Tinggal imajinasi dan kreativitas kita saja lagi sampaimana,” pungkasnya.

Meski sudah banyak menorehkan prestasi di usia usaha yang bisa terbilang masih muda, Paraborneo masih minim perhatian dari pemerintah.

Selama enam tahun, baru sekali dirinya mendapat bantuan modal dari pemerintah daerah yang disalurkan melalui kecamatan. Padahal usaha milik Surya ini juga terdampak akibat adanya pandemi.

Namun hingga saat ini belum ada keinginan pemerintah untuk melirik usahanya agar bisa dikembangkan lebih baik lagi.

“Kita selalu terkendala di batasan usia usaha. Padahal kita juga ingin dikenal lebih luas oleh masyarakat, dan anyaman kita juga bisa dikolaborasikan dengan karya lainnya seperti tas purun yang saat ini sedang gencar dipromosikan,” pungkasnya.

“Yaa bisa dikatakan minim apresiasi lah,” tuntasnya. (SU)

 112 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.