TAK SURUT Kekerasan terhadap Anak Terus Terjadi Meski di Tengah Pandemi

TAK SURUT Kekerasan terhadap Anak Terus Terjadi Meski di Tengah Pandemi

SuarIndonesia – Tanggal 23 Juli diperingati sebagai Hari Anak Nasional. Ini ditetapkan dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1984. Pemko Banjarmasin juga memperingatinya di balai kota kemarin, Kamis (23/07/2020).

Hari Anak Nasional kerap dijadikan momen sebagai hari yang spesial bagi anak-anak di seluruh Indonesia. Semangatnya tak lain agar mereka benar-benar mendapatkan kehidupan yang selayaknya sebagai anak.

Namun apakah benar momen ini sudah dinikmati seluruh anak-anak sesuai tujuannya. Khusus di Banjarmasin apakah di masa pandemi virus corona kekerasan terhadap anak menyurut? Jawabannya tidak.

Faktanya, berdasarkan data dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Banjarmasin, tercatat di 2020, hingga saat ini sudah ada 30 laporan kekerasan terhadap anak yang diterima.

Parahnya, kekerasan terhadap anak ini didominasi jenis kelamin perempuan. Sebab tercatat, dari 30 kasus tersebut 20 diantaranya berjenis kelamin perempuan, sedangkan sisanya adalah laki laki.

Kepala Dinas P2TP2A Banjarmasin, Iwan Fitriadi, mengungkapkan, kekerasaan terhadap anak di Banjarmasin memang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Sejak 2016 tercatat ada 25 kasus yang dilaporkan, 2017 sebanyak 35 kasus, 2018 sebanyak 37 kasus, 2019 sebanyak 47 kasus, dan 2020 hingga saat ini sudah ada 30 kasus.

Iwan membeberkan, diprediksi kasus kekerasan terhadap anak di 2020 ini bakal jauh lebih banyak. Alasannya karena faktor pandemi CoVID-19 yang tak sedikit mengakibatkan perekonomian warga menjadi terpukul.

“Faktor ekonomi memang sangat mempengaruhi. Tak hanya kekerasan sikis tapi juga psikis. Dan ini kemungkinan tak hanya di Banjarmasin saja. Tapi bisa saja terjadi di seluruh Indonesia,” beberapa.

Iwan mengatakan peningkatan jumlah kekerasaan anak ini bisa dipantau dari dua segi sudut pandang.

Pertama dalam sisi negatif, Pemko Banjarmasin sangat prihatin karena masih terjadi kekerasaan pada anak. Sedang sisi positifnya, masyarakat masih peduli dengan melaporkan kasus kekerasaan yang terjadi di lingkungan sekitar tempat tinggalnya.

Meskipun demikian, angka kekerasan pada anak masih menjadi fenomena gunung es. “Yang tidak dilaporkan malah tambah banyak. Itu yang sesungguhnya terjadi,” pungkasnya.

Bagi Iwan, seseorang melakukan tindak kekerasaan kepada anak didasari beberapa faktor. Seperti faktor ekonomi yang menyebabkan berpengaruh kepada pola asuh anak.

Sejalan dengan itu, orang tua mengalami ketegangan sehingga menyerang anak di bagian fisik dan psikis. “Karena orangtuanya kesulitan ekonomi lalu dilampiaskan kepada anak,” ucapnya.

Ditambahkan Iwan, ketika kekerasan dilaporkan, Satgas P2TP2A turun tangan untuk melakukan mediasi secara kekeluargaan terhadap orang tua dan anak yang bermasalah.

Ketika dimediasi, kasus tersebut tidak berlanjut ke ranah hukum maka bisa dikatakan terdapat kesepakatan antara kedua belah pihak.

“Itu merupakan yang terbaik karena ketika di tempat kami langsung dimediasikan secara kekeluargaan,” pungkasnya. (SU)

 202 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: