SEORANG DOSEN di UIN Dihentikan Penuntutan Perkara Penganiayaan

Bagikan :
SEORANG DOSEN di UIN Dihentikan Penuntutan Perkara Penganiayaan

SuarIndonesia – Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum, Dr. Fadil Zumhana menyetujui penghentikan terhadap Perkara Tindak Pidana Penganiayaan atas nama tersangka Andi Syam Rizal MT, tak lain seorang dosen di UIN (Universitas Islam Negeri) Awaludin Makasar.

Iru pada Senin (31/1-2022) yang dilakukan Kejaksaan Negeri 9Kejari) Gowa mengajukan permohonan penghentian penuntutan berdasarkan Keadilan Restoratif (Restoratif Justice) melalui ekspose secara virtual di hadapan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum Dr. Fadil Zumhana, terhadap perkara yang disangka melanggar Pasal 351 Ayat (1) KUHP

Dalam paparannya, disebut, tersangka Andi (36) yang dosen ini menganiaya korban Evi (25) merupakan Mahasiswa setempat.

Antara Tersangka dan korban masih mempunyai hubungan keluarga (kekerabatan dari Bulukumba)

Peristiwa bermula dari adik tersangka yang tinggal di rumah saksi korban Evi, dan adanya adu mulut yang kemudian berujung adik tersangka diusir oleh saksi korban dari rumahnya.

Karena masih memiliki hubungan kekerabatan tersangka kemudian pada Jumat (12 Nopember 2021) mendatangi saksi korban Evi di rumahnya di Perumahan Grand Sulawesi Kelurahan Bontomanai Kabupaten Gowa.

Hingga terjadilah pertengkaran mulut antara tersangka dengan korban karena tersangka merasa kesal perihal pengusiran sepupunya sembari mengatakan “saya orang Bulukumba juga, dan Dosen di UIN”.

Selanjutnya oleh saksi korban menjawab dengan kalimat “terus, kalo mauki dihargai, hargai juga orang”’.

Kemudian tersangka menarik jilbab saksi korban Evi, dan tersangka karena tidak bisa menahan emosi kemudian memukul pipi saksi korban sebanyak satu kali.

Pihak Kejaksaan Negeri Gowa kemudian mengupayakan Perdamaian melalui  Restorative Justice, dan sukses menjadi fasilitator sehingga terwujudnya perdamaian.

Antara korban dan tersangka dengan disaksikan oleh tokoh masyarakat setempat, upaya yang dilakukan oleh kejaksaan negeri gowa mendapatkan apresiasi dari Rektor Universitas Islam Awaludin Sulawesi Selatan dan sangat mendukung upaya Kejaksaan RI untuk menerapkan Restoratif Justice sehingga perkara tersebut tidak dilanjutkan ke penuntutan.

Adapun alasan pemberian penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif ini diberikan antara lain tersangka baru pertama kali melakukan tindak pidana;

Pasal yang disangkakan tindak pidananya diancam pidana tidak lebih dari 5 (lima) tahun;

Telah ada kesepakatan perdamaian antara tersangka dengan korban.

Jaksa sebagai Fasilitator mencoba mendamaikan dengan cara mempertemukan kedua belah pihak, pertemuan tersebut disaksikan tokoh masyarakat setempat sehingga korban sudah merasa tidak keberatan lagi dan korban sudah memaafkan pelaku.

Sesuai arah kebijakan pemerintah untuk menyelesaikan perkara-perkara ringan diluar persidangan tanpa proses persidangan yang berbeli-belit dan berkepanjangan yang akhirnya hanya membebankan pendanaan dan waktu, serta aparat yang menjaga Narapidana yang sebenarnya tidak sebanding dengan perbuatan tersangka

Tahap II dilaksanakan pada tanggal 26 Januari 2022 dihitung kalender 14 (empat belas) harinya berakhir pada tanggal 9 Februari.

Kejari  Gowa selanjutnya akan menerbitkan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKP2) Berdasarkan Keadilan Restoratif sebagai perwujudan kepastian hukum, berdasarkan Peraturan Jaksa Agung Nomor 15 Tahun 2020. (*/ZI)

 477 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.