PULUHAN TON Ikan Petani Tambak Banua Anyar Mati

PULUHAN TON Ikan Petani Tambak Banua Anyar Mati

Suarindonesia – Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Banjarmasin, Ir H Lauhem Mahfuzi mengakui puluhan ton ikan yang mati di tambak petani Banua Anyar terindikasi karena adanya pencemaran sungai akibat limbah pertambangan batubara.

“Sehubungan sungai surut akhirnya kiriman Limbah dari Batola (Barito Kuala) yang mengangkut batubara. Kiriman itu banyak,” ucapnya Ir H Lauhem Mahfuzi saat dihubungi via telepon, Senin (07/10/2019).

Bahkan, lanjut Lauhem kejadian serupa juga terjadi di Margasari, Kabupaten Tapin. Menurutnya, Banjarmasin juga terdampak akibat kiriman air tersebut.

“Bahkan di Margasari juga ada kejadian seperti itu. Karena airnya kan larut sampai ke kita. Air ini kan nggak bisa ditahan,” katanya.

Lauhem mengakui, hingga saat ini pihaknya masih belum melakukan pemantauan ke lokasi tambak petani ikan di Banua Anyar. Alasannya, mereka baru mengetahui informasi tersebut.

“Setelah ini akan saya perintahkan kepada bagian perikanan untuk melihat kondisi di sana,” pungkasnya.

Sebelumnya, sebanyak 80 ton ikan berjenis bawal milik para petani tambak ikan di Banua Anyar, Kecamatan Banjarmasin Timur mati secara tiba-tiba sejak Kamis lalu. Dengan kejadian ini, petani mengalami gagal panen.

Wakil Ketua Gapoktan Tambak Ikan Banua Anyar, Habhan menyebutkan, angka kerugian yang mereka alami mencapai Rp1,2 miliar.

Dari pengakuan Ahmad Yani hanya bisa pasrah. Ikan bawal yang sudah siap panen tiba-tiba mati sejak Kamis lalu. Jumlahnya pun tak sedikit. Ikan milik pria yang akrab disapa Anang ini mati sebanyak satu ton.

“Kemungkinan karena kondisi air yang buruk,” ucap petani tambak ikan Banua Anyar, Kecamatan Banjarmasin Timur ini.

Ia juga mengaku pasrah dan apa boleh buat, ikan-ikan tersebut tak mungkin lagi dijual. Anang terpaksa membuang ikan-ikan ini, dan sebagian dijadikan kembali untuk pakan bibit. “Kalau bibit bisa bertahan, tapi yang mati ini yang sudah besar,” imbuhnya.

Rupanya, tak hanya Anang yang mengalami hal ini. Sedikitnya 70 petani tambak ikan di Banua Anyar juga mengalami yang serupa.

Habhan menceritakan, kejadian ini bermula dari kondisi air asin saat kemarau yang melanda Banjarmasin.

Namun lanjut Habhan, kondisi itu tak terlalu berdampak buruk bagi ikan. “Kalau air asin bawal masih bisa bertahan, paling nafsu makan saja yang kurang,” jelasnya.

Dia melanjutkan, sepekan terakhir nafsu makan ikan meningkat seiring turunnya air hujan dari wilayah hulu. Para petani pun memberi makan secara normal. Namun tiba-tiba saja sejak Kamis hingga Sabtu ikan yang siap panen itu mati.

Habhan mengakui bahwa, air asin kembali datang seiring pasangnya air yang datang dari hilir. “Sejak Kamis sampai Sabtu ikan ini mati. Bagi yang mempunyai mesin oksigen masih bisa meminimalisir. Tapi yang tidak punya hanya bisa pasrah,” bebernya.

Ia juga berharap pemerintah kota bisa memberi solusi terkait matinya ikan-ikan ini. Pasalnya hingga saat ini mereka tak pernah mendapatkan pembinaan, ataupun seksdar informasi terkait kondisi air.

“Memang tidak pernah sama sekali di tengok. Kami juga meminta setidaknya ada informasi kondisi air saat ini bagaimana. Setidaknya seandainya ada informasi kami bisa meminimalisir kerugian,” katanya.(SU)

 762 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!