PRO-KONTRA Pemain Liga 1 Soal Gaji 25% Dampak Covid-19

PRO-KONTRA Pemain Liga 1 Soal Gaji 25% Dampak Covid-19
Klub berencana pangkas gaji pemain hingga 75 persen karena corona. (ANTARA FOTO/Abriawan Abhe/ws)

SuarIndonesia – Pemain Liga 1 2020 masing-masing memiliki respons berbeda soal kebijakan pembayaran gaji 25 persen di masa penundaan kompetisi karena virus corona.

Diliris dari CNNIndonesia.com, PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator kompetisi menyetujui usulan klub yang berencana hanya membayar 25 persen gaji pemain selama jeda kompetisi demi menekan penyebaran Covid-19.

Para pemain yang tak dilibatkan dalam pengambilan keputusan ini memiliki respons yang berbeda. Ada yang pro juga kontra terhadap kebijakan klub.

Bek PSM Makassar, Zulkifli Syukur, menyerahkan penyelesaian gaji pemain kepada Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI). Suara terbanyak pemain jadi keputusan yang disepakati bersama.

“[Setuju atau tidak setuju] kalau itu saya belum bisa jawab karena kami dari pemain sudah ada perwakilan melalui APPI. Kami serahkan sepenuhnya ke APPI untuk masalah ini,” ucap Zulkifli kepada CNNIndonesia.com, Senin (30/3).

Pendapat berbeda diucapkan striker Madura United Beto Goncalves. Beto mencoba memahami situasi yang terjadi di Indonesia sehingga tidak bisa memaksakan meminta gaji lebih.

Beto hanya berharap kondisi dan situasi terkait virus corona dapat segera membaik, sehingga kompetisi dapat segera dilanjutkan.

“Saya memahami situasi sekarang. Tidak ada solusi lagi. Saya pikir kita semua harus terima keputusan itu. Kami tidak bekerja dan apapun keputusannya kami harus terima karena keadaan sekarang memang sedikit susah untuk semuanya,” sebut Beto.

Sebelumnya, PSSI membuka opsi untuk menghentikan kompetisi berjalan jika sampai batas akhir yang ditentukan yakni pada 29 Mei 2020 penyebaran virus corona di Indonesia tak kunjung membaik.

Jika kompetisi terpaksa dihentikan, PSSI meminta klub untuk tetap membayarkan gaji pemain, pelatih dan ofisial selama kondisi darurat yakni mulai Maret, April, Mei dan Juni. Klub diminta membayarkan gaji pemain dan ofisial maksimal 25 persen dari kewajiban yang tertera di dalam kontrak.

Menanggapi hal itu, APPI angkat bicara dengan menyatakan keberatan atas keputusan PSSI. General Manajer, Ponaryo Astaman mengatakan ada beberapa pertimbangan dari keberatan yang disampaikan, termasuk soal 25 persen gaji pemain.

“Dalam pengambilan keputusan tersebut tidak melibatkan pesepakbola sebagai stakeholder dan juga salah satu pihak yang paling terdampak.”

“Keputusan pembayaran gaji sebesar 25 persen sejak Maret sampai Juni merupakan hal yang seharusnya disepakati kedua belah pihak. Karena perubahan kontrak kerja wajib dilakukan dengan kesepakatan antara klub dengan pemain, tidak bisa sepihak,” jelas Ponaryo.

APPI meminta supaya klub wajib melakukan pembayaran down payment (DP) dan gaji hingga Maret 2020 sesuai dengan kontrak kerja antara klub dengan pemain. APPI juga meminta supaya segala keputusan terkait kompetisi yang berimplikasi dengan kontrak pemain untuk dilibatkan sebagai perwakilan pesepakbola Indonesia.

“Kami meminta pertemuan yang melibatkan semua stakeholder tanpa terkecuali dengan dasar saling respect dan fair untuk mencapai solusi yang bisa diterima semua pihak. Surat keberatan sudah kami sampaikan ke PSSI, tapi belum ada jawaban,” terang Ponaryo. (RA)

 210 total views,  1 views today

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: