POLWAN Polda Kalsel, Bripka Astri Theresia Pernah Bertugas di Wilayah Seperti Indonesia di Tahun 1930-an

POLWAN Polda Kalsel, Bripka Astri Theresia Pernah Bertugas di Wilayah Seperti Indonesia di Tahun 1930-an

SuarIndonesia – Astri Theresia, seorang Polwan (Polisi Wanita) berpangkat Bripka (Brigadir Polisi Kepala), pernah merasakan bertugas di wilayah layaknya seperti Indonesia di tahun 1930-an.

Itu ucap Polwan, salah satu anggota Polda Kalsel (Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan), tak lain ketika dirinya mengikuti misi UNAMID (United Nations and African Union Mission in Darfur) di Sudan.

Artinya, tak sedikit dari Polwan yang justru tampil terdepan menembus batas menunjukkan kemampuan terbaik untuk menoreh prestasi membanggakan, selain Polki (Polisi Laki-laki).

“Waktu penugasan, tetap semangat dan mendapat dukungan suami, Aiptu Julpensius Purba (juga anggota Polda Kalsel).

Meski harus rela berpisah mentara waktu ketiga buah hatinya yaitu Abelardo (13), Alesandro (11) dan Audrey (9),” ucapnya.

Bripka Astri Theresia, bercerita pengalamannya kepada (wartawan) pasca Hari Jadi Polwan ke 73..

Astri Theresia tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Garuda Bhayangkara (Garbha) II Formed Police Unit (FPU) 11 Indonesia.

Dan salah satu dari 140 personel Polri yang dikirim ke negara konflik di Afrika Utara itu selama satu tahun enam bulan dimulai sejak 9 Maret 2019 sampai 26 September 2020.

Theresia tak sendiri, sebanyak 15 personel polwan dari berbagai Polda bergabung dalam Satgas FPU 11 Indonesia.

Khusus Polda Kalsel mengirimkan empat personel, yaitu dirinya bersama Brigadir Moh. Modassir, Brigadir I Wayan S.P Mahardika dan Bripka Hidayattulah.

“Menjalankan misi pemeliharaan perdamaian dunia di bawah organisasi internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau United Nations (UN) di Darfur, Sudan, jadi pengalaman berharga bagi saya,” ungkap Polwan angkatan 28 tahun 2003 ini menambahkan.

Baginya, dinas di luar negeri adalah impian yang terwujud. Meski segala tantangan dan rintangan harus dilewati begitu berat.

Disebutnya, sejak tahun 2008 dalam format FPU baru, FPU 11 Indonesia menjadi FPU Indonesia pertama yang mengirimkan polwan ke daerah misi Darfur, Sudan, pada 2019.

Dan 15 polwan di FPU 11 Indonesia pun berhasil mengukir prestasi di daerah misi, terutama dalam misi kemanusiaan dan misi kebudayaan.

Apresiasi dari pejabat UNAMID maupun masyarakat lokal di daerah misi yang menjadikan polwan sebagai salah satu centre point terlaksananya misi penjaga perdamaian.

Ceritanya, sikap dan cara bertindak dari sisi perempuan tentu menjadikan pelaksanaan tugas di lapangan menjadi berbeda.

Kelembutan dan tutur kata membantu kelancaran dalam bertugas khususnya saat berhadapan dengan wanita dan anak-anak di daerah misi.

Wilayah penugasan, tergabung dalam kontingen yang bertugas di wilayah Golo, Central Jabbal Marra, Darfur.

Sebuah pemukiman dan distrik pedesaan yang terletak di Darfur Tengah, berjarak sekitar 250 km dari El Fasher ibu kota Darfur Utara, Sudan.

Golo TOB (Temporary Operating Base) berada di pegunungan Jabbal Marra dan merupakan pusat dari Jabbal Marra Task Force (JMTF) yang terletak di ketinggian sekitar 1.632 meter di atas permukaan laut.

“Pokoknya di sana cuaca akan sangat dingin di malam hari hingga pagi, sekitar 16 sampai 19 derajat Celsius,” ucap alumnus SMKN 5 Banjarmasin.

Polwan satu ini mengibaratkan kondisi Golo seperti Indonesia di tahun 1930.

Tidak ada sinyal dan sangatlah tertinggal. Bahkan kendaraan bermotor seperti mobil tidak ada.

Transportasi masyarakat setempat hanya mengandalkan hewan yaitu keledai dan unta.

Untuk bisa berkomunikasi dengan keluarga di tanah air, personel Satgas FPU 11 Indonesia menggunakan sinyal wifi milik PBB yang dijatah setiap empat hari sekali.

Durasinya sekitar dua sampai tiga jam saja. Tapi kalau sedang gangguan maka antri lagi empat hari berikutnya.

Namun sukses mengakhiri misi patriot garuda dan merah putih sebagai jati diri pasukan asal Indonesia.

Ia mengungkapkan tak ada perbedaan antara polki dan polwan saat bertugas di Sudan. Pelaksanaan tugas operasional FPU 11 Indonesia. Antara lain patroli ke area kamp pengungsi.

Selain memberikan perlindungan terhadap personel Police Advisor, pasukan FPU juga melakukan pendekatan dan interaksi dengan masyarakat.

Kemudian melakukan pengawalan delegasi yang datang berkunjung ke UNAMID untuk tujuan-tujuan tertentu demi kemanusiaan termasuk pengawalan distribusi bantuan kemanusiaan baik dari WFP, UNICEF, ataupun International Non Goverment Organitation (I-NGO).

Prinsipnya, personel FPU 11 Indonesia memberikan pengamanan masyarakat yang melaksanakan aktivitas harian dari pihak-pihak yang mencoba merusak stabilitas keamanan.

Untuk mengenal keberagaman budaya yang dimiliki Indonesia, Tere bersama personel lainnya juga kerap menyuguhkan kesenian dan kebudayaan pada setiap kesempatan acara atau event besar, baik kegiatan UN ataupun memperingati hari besar Indonesia.

“Kami menampilkan berbagai macam tarian daerah seperti Marawis, Kecak, Cakalele dan Metikei, Tor-tor, Uwok Batung dan Maumera,” paparnya.

Ditanya kondisi penugasan dikala pandemi Cobid-19. Ia sebut jelas menjadi kendala dalam pelaksanaan operasional maupun rotasi misi UNAMID, sehingga seluruh pergerakan menjadi dibatasi.

Termasuk FPU 11 Indonesia mengalami penundaan rotasi sampai 6 bulan. Ia dan rekan satu pasukan harus tinggal lebih lama di Sudan dari yang dijadwalkan yaitu hanya satu tahun menjadi 1 tahun 6 bulan.

Dia meyakini semua sudah menjadi rencana Tuhan.“Manusia hanya bisa merencanakan tapi takdir tetap Sang Pencipta yang menentukan.

Apa pun yang terjadi di medan tugas adalah konsekuensi yang harus dijalani penuh keikhlasan.

Apalagi bergabung di Satgas Garuda Bhayangkara dengan tugas mulia menjalankan misi kemanusiaan telah menjadi impiannya sejak memutuskan mengikuti seleksi.

Di samping dia suka tantangan dan hobi jalan-jalan,” ucapnya sembari tersenyum.

Tak mudah bagi seorang anggota Polri apalagi polwan bisa terpilih. Proses seleksi super ketat menjadi tantangan setiap insan Bhayangkara dan hanya yang terbaik diberikan kesempatan jadi duta bangsa di kancah internasional tersebut.

Di samping kemampuan fisik prima, personel juga wajib menguasai bahasa asing, terutama bahasa Inggris.

Khusus penugasan di Sudan sebuah negara dengan populasi muslim yang masih masuk dalam kawasan Timur Tengah, personel Polri juga dibekali kemampuan bahasa Arab agar bisa berkomunikasi dengan masyarakat di sana.

Kemudian menceritakan persiapannya sebelum berangkat ke Sudan kala itu. Dimana setelah terpilih, diberikan pelatihan termasuk belajar bahasa Arab di pusat latihan multi fungsi di Cikeas, Bogor Jawa Barat.

Ia menyatakan, tidak semua personel Polri bisa merasakan tugas spesial dikirim ke luar negeri.

Untuk itu dirinya sebagai polwan sangat bersyukur dengan apa yang telah diraih.

“Pimpinan Polri memberikan kesempatan yang sama kepada polwan untuk bersaing dengan polki.

Mari para srikandi di Bhayangkara kita tunjukkan kemampuan terbaik kita mengabdi tanpa batas demi masyarakat, bangsa dan negara,” pungkasnya. (ZI)

 2,245 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: