PERMAINAN Pengelolaan Keuangan PT AMU Berujung Oknum Pejabatnya Terjerat Hukum

Bagikan :
PERMAINAN Pengelolaan Keuangan PT AMU Berujung Oknum Pejabatnya Terjerat Hukum
Kapuspenkum Kejagung RI, Leonard Eben Ezer Simanjutak SH MH, saat memberi keterangan terkait ditetapkannya kedua tersangka

SuarIndonesia –Permainan dalam pengelolaan keuangan PT AMU berujung oknum pejabatnya terjerat hukum.

Dari keterangan diproleh, Kamis (28/10/2021), yakni WW, mantan karyawan PT Askrindo Mitra Utama (AMU) dan mantan Direktur Pemasaran PT AMU, resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh Direktorat Penyidikan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus.

“Keduanya ditetapkan sebagai tersangka, terkait dugaan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) dalam pengelolaan keuangan PT AMU Tahun Anggaran 2016 sampai 2020.

Selanjutnya, terhadap kedua tersangka WW dan FD dilakukan penahanan selama 20 hari, terhitung sejak 27 Oktober 2021 sampai 15 November 2021 di Rutan Salemba Cabang Kejaksaan Agung,” kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung RI, Leonard Eben Ezer Simanjutak SH MM.

Keduanya ditetapkan sebagai tersangka, terkait dugaan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Adapun kasus posisi singkat dapat dijelaskan sebagai berikut.

Jika dalam kurun waktu antara tahun 2016 sampai 2020, terdapat pengeluaran komisi agen dari PT Askrindo kepada PT Askrindo Mitra Utama (anak usaha) secara tidak sah yang dilakukan dengan cara mengalihkan produksi langsung (direct) PT Askrindo menjadi seolah-olah produksi tidak langsung melalui PT AMU (indirect).

Yang kemudian, sebagian di antaranya dikeluarkan kembali ke oknum di PT Askrindo secara tunai, seolah-olah sebagai beban operasional tanpa didukung dengan bukti pertanggungjawaban atau dilengkapi dengan bukti pertanggungjawaban fiktif, sehingga menimbulkan kerugian keuangan negara

Dalam perkara dimaksud penyidik telah mengamankan dan melakukan penyitaan sejumlah uang share komisi sejumlah Rp611.428.130, serta USD 762.900 dan SGD 32.000.

Dikatakan, saat ini sedang dilakukan penghitungan kerugian negara oleh Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

Adapun peran masing-masing tersangka yaitu WW meminta, menerima, dan memberi bagian share komisi yang tidak sah dari PT AMU.

Sedang, tersangka FB mengetahui dan menyetujui pengeluaran beban operasional PT AMU secara tunai tanpa melalui permohonan resmi dari pihak ketiga yang berhak, sekaligus tanpa didukung dengan bukti pertanggungjawaban atau dilengkapi dengan bukti pertanggungjawaban fiktif.

Kemudian, membagi dan menyerahkan share komisi yang ditarik secara tunai di PT AMU Pusat kepada empat orang di PT Askrindo.(*/ZI)

 217 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!