Mengenang Sang Maestro Mamanda Sirajul Huda

Mengenang Sang Maestro Mamanda Sirajul Huda

Suarindonesia– Umur kada babau. Istilah ini yang tepat ditujukan kepada orang-orang yang meninggal dunia tanpa diduga sebelumnya, termasuk Budayawan Banjar, Drs H Sirajul Huda MM. Beliau meninggal pada hari Selasa 11 September 2018, bertepatan dengan tanggal 1 Muharram 1440 H.

Padahal beberapa hari sebelumnya, Ia masih aktif dalam berbagai kegiatan. Bahkan pada tanggal 8 September, beliau masih mendampingi Sultan Banjar Haji Khairul Saleh Al-Mu’tashim Billah ketika menganugerahkan Mandau Telabang, menyambut Kapolda Baru Kalsel Irjen Pol Yazid Fanani yang menggantikan Kapolda terdahulu Irjen Pol Rahmat Mulyana.

Dalam upacara adat itu Sirajul Huda tampak di samping Sultan, menapung-tawari Kapolda baru kemudian foto-foto bersama. Tetapi begitulah, tidak ada yang bisa memprediksi batas usia manusia. Bahkan keluarga dekat pun tidak merasakan firasat apa-apa. Beliau mendadak sakit pada hari meninggalnya kemudian dibawa ke rumah sakit dan selanjutnya menghembuskan nafas terakhir dalam usia 66 tahun.

Kabar duka pun segera berhembus, ratusan orang berdatangan ke rumah duka di Banjarbaru, banyak pula rekan almarhum di Banjarmasin yang berhalangan melayat dan hanya mendoakan dari jauh. Selepas shalat zuhur jenazah almarhum dimakamkan di pemukaman muslim Guntung Lua Banjarbaru. Kepergian budayawan yang pendiam namun ramah kelahiran Banjarmasin 5 Januari 1952 tersebut menjadikan banyak orang merasa kehilangan.

Perasaan belasungkawa pun dirasakan oleh Sultan Banjar, Sultan Khairul Saleh Al-Mu’tashim Billah. Ia mengingat bahwa sangat banyak sekali event budaya yang dijalani oleh Sirajul Huda dalam tahun-tahun terakhir menjelang meninggalnya. Di antaranya, pada peluncuran Kitab Kambang Rampai Pantun Basa Banjar karya almarhum Adjim Arijadi yang dibedah saat memperingati 100 hari meninggalnya Adjim, Sirajul Huda membacakan pantun untuk mengenang almarhum Adjim.

Menurutnya, kitab tebal yang diterbitkan oleh Pustaka Agung Kesultanan Banjar tersebut dibedah di salah satu bangunan Taman Budaya Banjarmasin, menghadirkan pakar budaya dari ULM Banjarmasin Rustam Effendi dan budayawan dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Maman S Mahayana.

Selain itu, pada Milad ke-513 Kesultanan Banjar di Masjid Jami Banjarmasin 2018, Sirajul Huda membawakan syair-syair Gurindam di depan jamaah/hadirin, yang menurutnya sangat indah dan berkesan karena jarang sekali terdengar ada orang yang mampu membawakan gurindam seperti itu.

Adapun sehabis lebaran Idul Fitri 1439 H, Sirajul Huda, juga mendampingi Pengeran Ahmad Noryakin menghadiri sebuah acara budaya di Barikin Hulu Sungai Tengah. Selanjutnya, Sirajul Huda tampak dalam rombongan Kesultanan Banjar ketika mengunjungi Kompleks makam Sultan Suriansyah di Kuin, guna menyerahkan hewan Qurban dari Kesultanan Banjar.

Sultan Banjar menyuarakan bahwa sepeninggalan tetuha budaya Banjar, seperti H Syamsiar Seman, H Suriansyah Ideham, H Adjim Arijadi dan lainnya yang meninggal lebih dahulu, Kesultanan Banjar banyak berharap pada Sirajul Huda, sebab beliau merupakan seniman dan budayawan serba bisa. Kalau ada sesuatu keperluan, Sirajul Huda bisa diturunkan.

“Namun Allah berkehendak lain, rupanya Sirajul Huda pun dipanggil ke hadiratNya, menyusul para budawan senior lainnya,” ucap Sultan Banjar.

Ia mengungkapkan bahwa kalau dilihat latar belakang pendidikannya, Sirajul Huda adalah sarjana Ilmu Sosial dan Politik, FISIP ULM Banjarmasin dan kemudian Magister Manajemen. Tetapi hal, itu tidak mengurangi jiwa seninya. Adapun Khairul Saleh menirukan penuturan rekan almahrum, Hajriansyah, sejak muda yakni sejak SMP Sirajul Huda sudah aktif dalam seni budaya Banjar, seperti teater Banjar, seni tari Banjar, mamanda dan sebagainya. Beberapa seniman-budayawan yang pernah menjadi mentornya adalah Sapri Kadir, Bachtiar Sanderta, Adjim Arijadi dan banyak lagi.

“Sirajul Huda yang sering menjadi juri perlombaan seni-budaya Banjar bukan sekadar ahli atau pakar dalam hal budaya Banjar. beliau mencintainya secara lahir dan batin. Beliau tahu teorinya, filosofinya dan seni

“Sirajul Huda yang sering menjadi juri perlombaan seni-budaya Banjar bukan sekadar ahli atau pakar dalam hal budaya Banjar. beliau mencintainya secara lahir dan batin. Beliau tahu teorinya, filosofinya, seni geraknya, juga bisa memainkannya. Seluk-beluk seni-budaya Banjar tersebut sempat pula ia abadikan dalam beberapa buku karyanya, diantaranya Tari Japin Rantauan, Gerak Dasar Tari Tradisi Kuda Kepang Kalimantan Selatan, dan Permainan Tradisional Rakyat Kalimantan Selatan,” ucapnya.

Menurutnya, karena keahlian Sirajul Huda dalam seni-banjar itu tidak berlebihan sebelum pensiun, beliau pernah dipercaya sebagai kepala Taman Budaya Banjarmasin dan kepala Museum Negeri Kalimantan Selatan Lambung Mangkurat di Banjarbaru. Tidak berlebihan pula pada Milad Kesultanan Banjar tahun 2016, Sirajul Huda diberi gelar Datu Mangku Adat (DMA) oleh Kesultanan Banjar. Gelar tersebut diberikan pada perayaan Milad di Masjid Sultan Suriansyah.

Sebelumnya Sirajul Huda juga mendapatkan Anugrah Astaprana Utama bidang seni tradisi Banjar dari Kesultanan Banjar. Meskipun banyak bidang seni yang dikuasai oleh Sirajul Huda, mamanda adalah salah satu yang beliau senangi. Beliau pandai sekali memainkan mamanda dan berusaha menurunkan keahlian tersebut, baik melalui kader-kader maupun melalui buku-buku kesenian yang ditulisnya. Tepat sekali beliau dijuluki Maestro Mamanda. Julukan itu melengkapi julukan sebelumnya yang ditujukan kepada alm Anang Ardiansyah sebagai Maestro Lagu-lagu Banjar, dan almarhumah Hj Joerliani Djohansjah sebagai Maestro Tarian Tradisional Banjar.

Saat ini (2018), diantara sedikit budayawan yang masih hidup, dapat disebut Drs. Mukhlis Maman alias Julak Larau yang dijuluki Maestro Kuriding Kalimantan Selatan.

Manusia makhluk berbudaya, oleh karenanya kebudayaan tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Meninggalnya Sirajul Huda, penting menjadi catatan kita, sebab hal itu berarti barisan budayawan Banjar semakin hari semakin berkurang. Budayawan senior meninggal satu per satu, sementara budayawan yunior sebagai pengganti dan penerus masih kurang terlihat.

Oleh karena itu, kita tidak henti-hentinya menghimbau kepada generasi muda agar mau terjun ke dunia budaya dalam arti yang seluas-luasnya. Melalui budaya ini kita bisa berkiprah memajukan masyarakat, menghaluskan akal budi, melalui budaya kiita bisa berdakwah dan mendidik masyarakat, mengenalkan masyarakat Banjar ke dunia luar, menananmkan cinta negeri kepada generasi muda, dan banyak manfaat lainnya. Bahkan ada kalanya kalau digeluti secara optimal dan professional, dunia budaya juga bisa menjadi profesi.(BY)

 1,772 kali dilihat,  5 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: