INSAN ADHYAKSA Diingatkan Jaksa Agung,  Integritas dan Martabat Institusi

Bagikan :
INSAN ADHYAKSA Diingatkan Jaksa Agung,  Integritas dan Martabat Institusi

SuarIndonesia – Insan adhyaksa diingatkan Jaksa Agung RI, Burhanuddin untuk mewujudkan penegakan hukum berkeadilan dan dirasakan manfaatnya bagi masyarakat.

“Jadi dalam melaksnaakan tugas dan kewenangannya tidak hanya berintegrasi dan profesionalismen, namun juga berhati nurani,” katanya

Dari keterangan, Minggu (28/11/2021), penyataan itu disampaikan pada pengarahan Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan beserta pejabat utama dan jajarannya, Kamis (25/11/2021).

“Saya butuhkan para Jaksa yang pintar dan berintegritas,” tambahnya.

Menurut Jaksa Agung, integritas adalah segala tindakan yang menggambarkan kejujuran dan kewibawaan seseorang dalam menjalankan tugasnya.

Integritas sendiri dapat dilihat dari mutu, sifat, dan keadaan seseorang, sehingga seseorang yang memiliki integritas sangat bisa diberi kepercayaan karena selalu bertindak transparan, konsisten, bertanggung jawab, dan objektif.

“Oleh karena itu saya tekankan kepada seluruh insan Adhyaksa bahwa integritas bukan hanya sebuah tagline semata, integritas harus dilaksanakan baik melalui ucapan, tingkah laku dan tindakan nyata”.

Tingkatkan pengawasan melekat secara intensif kepada setiap anggotanya, karena apabila anggota saudara melakukan perbuatan tercela, maka akan dievaluasi hingga 2 (dua) tingkat ke atas,” beber Jaksa Agung.

Jaksa Agung mengingatkan lagi, sudah banyak pegawai yang ditindak serta dipidanakan karena telah menggadaikan integritas dan martabat institusi.

“Saya tidak ingin jika sikap dan perilaku saudara mencoreng doktrin Tri Krama Adhyaksa,” tegasnya.

Selanjutnya soal profesionalisme, dimana merupakan cermin dari kemampuan, pengetahuan, keterampilan, bisa dilakukan dengan ditunjang dengan pengalaman.

Selain itu adalah roh yang menggerakan, mendorong, mendomisasi dan membentengi seseorang dari tendensi penyimpangan serta penyalahgunaan kewenangannya baik secara internal maupun eksternal.

Dikatakan, profesionalitas seorang jaksa terlihat dari cara memprediksi dan membagi waktu penanganan perkara, baik itu perkara Pidum maupun perkara Pidsus.

Sehingga seharusnya tidak ada alasan bagi Jaksa untuk menunda agenda sidang pembacaan tuntutan.

Karena sejatinya tidak ada alasan penundaan sidang selain karena hal teknis, seperti tidak dapat hadirnya saksi atau ahli mengikuti persidangan. “Untuk itu saya tidak mau lagi mendengar ada penundaan sidang pembacaan tuntutan, terlebih dengan alasan rentut belum turun dari pimpinan,” ucapnya.

Ia sebut, tidak segan mengevaluasi jika masih ada Jaksa yang menunda sidang pembacaan tuntutan tanpa ada alasan yang sah.

Disebut Jaksa Agung, gunakan hati nurani dalam setiap pelaksanaan tugas dan kewenangan.

Dimana arti penting dan tujuannya adalah penegakan hukum yang dilakukan bukan hanya memenuhi nilai kepastian untuk mencapai keadilan.

Namun juga kemanfaatan dari penerapan hukum itu sendiri untuk mencapai keadilan yang hakiki.

“Restorative Justice lahir, karena saya ingin kehadiran Jaksa di tengah masyarakat tidak hanya memberikan kepastian dan keadilan, tetapi juga kemanfaatan hukum.

Penegakan hukum harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, karena hukum ada untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

Sehingga apabila penegakan hukum dipandang tidak memberikan kemanfaatan bagi masyarakat, maka itu sama dengan hukum telah kehilangan rohnya,” pungkasnya. (*/ZI)

 

 131 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!