DKP3 dan DLH Cek Lokasi Keramba yang Ikannya Mati

DKP3 dan DLH Cek Lokasi Keramba yang Ikannya Mati

SuarIndonesia – Memasuki sepekan paska kematian ikan keramba jaring apung milik para petambak yang berusaha di sepanjang Sungai Tepi Martapura Banua Anyar akhirnya Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikan (DKP3) Kota Banjarmasin dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang dipimpin Drs H Mukyar akhirnya melihat langsung ke lokasi keramba.

Bahkan dari hasil uji kualitas air di kawasan petambak ikan keramba jaring apung, Kelurahan Banua Anyar pada Senin (7/10/2019) memang sampai sekarang belum diketahui cara pasti karena masih menunggu hasil Laboratorium.

Dari hasil pengambilan sampel air diharapkan bisa diketahui penyebabnya. Namun DKP3 Banjarmasin mendapati faktor utama penyebab matinya puluhan ton ikan jenis bawal ini karena rendahnya oksigen terlarut (dissolved oxygen, DO) dalam air.

“Saat ini kondisi air di sungai kualitasnya makin parah sehingga ikan dalam keramba terlalu padat dan berebut oksigen setiap hari sehingga terancam kematian,’’ ucap Kepala Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKP3) Banjarmasin Ir Lauhem Mahfuzi kepada awak media, Selasa (09/10/2019).

Ia menjelaskan, selain faktor tingginya kadar garam, pola penangkaran ikan melebihi kapasitas. Idealnya memang dalam satu keramba hanya memuat 200-300 ikan, sehingga oksigen yang dimiliki bisa mencukupi.

“Ini kan dalam satu keramba diisi sampai 500 ikan siap panen dan 1.000 untuk bibit ikan,” papar Lauhem.

Ia menerangkan pihaknya telah lama memberitahukan tata cara yang benar dalam membudidayakan ikan di tambak agar tidak terjadi kerugian besar terhadap para petani ikan.

Bahkan kejadian seperti itu, agar ke depannya para penambak ikan bisa lebih menjalankan teknis yang benar dalam pembudidayaan ikan. Seperti tidak sembarangan memberikan pakan, serta menjaga kualitas keramba.

Kepala DLH Kota Banjarmasin, Drs H Mukhyar bahwa terlalu banyak memberikan makanan terhadap ikan juga bisa mencemari sungai. Apalagi kondisi air sungai yang kandungan kadar garam di dalamnya cukup tinggi, membuat kondisi ikan tidak bisa bertahan hidup lama.

“Iya kan tak hanya dari airnya tapi dari pakannya pun bisa tercemar sehingga banyak ikan yang mati,” terangnya.

Ia pun mengimbau kepada para petani ikan untuk bisa lebih memperhatikan dalam pola pemeliharaan ikan agar, tidak terulang kembali kejadian yang dapat merugikan.

Sedangkan tujuan tinjauan itu terlihat kondisi air sungai surut dan berwarna kuning kecoklatan dengan kadar garam di atas ambang batas. Sehingga membuat ribuan bibit maupun ikan siap panen mati dan petani mengalami kerugian besar.

Kasi Produksi Perikanan, DKP3 Banjarmasin, Sulaiman menyebut, saat pengecekan DO di Sungai Martapura, Kelurahan Banua Anyar, hanya berada di angka dua, jauh dari ambang normal.

“Setelah kami cek PH-nya (Hidrogen) normal. Tapi DO sangat kurang, hanya dua. Sehingga ikan kehabisan oksigen. Kalau normal harusnya paling tidak DO-nya sepuluh,” ucap Sulaiman.(SU)

 488 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!