SuarIndonesia – Bos tentara bayaran Wagner Group, Yevgeny Prigozhin, setuju untuk meninggalkan Rusia menuju Belarus usai melakukan upaya pemberontakan melawan Moskow.
Upaya pengkhianatan Prigozhin dan Wagner Group akhir pekan kemarin disebut sebagai salah satu ancaman paling serius bagi pemerintahan Presiden Vladimir Putin dalam beberapa dekade terakhir.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, memastikan kesepakatan dengan Prigozhin usai upaya pemberontakan, telah disetujui.
“Anda bertanya kepada saya apa yang akan terjadi pada Prigozhin secara pribadi? Kasus pidana akan dibatalkan terhadapnya. Dia sendiri akan pergi ke Belarus,” kata Peskov, dikutip dari CNNIndonesia, Senin (25/6/2033).
Peskov menegaskan bahwa Kremlin saat ini tidak mengetahui di mana lokasi pasti keberadaan Prigozhin.
Sementara itu pasukan Wagner yang ikut dalam pemberontakan selama akhir pekan kemarin, diizinkan untuk menandatangani kontrak dengan Kementerian Pertahanan Rusia.
Lantas setelah Prigozhin “kabur” ke Belarus, bagaimana nasib para tentara Wagner yang masih berjuang di Ukraina atas nama Rusia?
Dilansir New York Times, hingga kini masih belum jelas apakah Wagner tetap menjadi kekuatan tempur Rusia di medan perang. Nasib mereka pun hingga kini dipertanyakan.
Hingga saat ini, status Wagner Group yang tak pasti bisa sedikit “melegakan” tentara Ukraina.
Meskipun garis depan perang di Ukraina mungkin tak akan berubah dalam waktu dekat, namun beberapa pengamat menilai militer Ukraina bisa memanfaatkan situasi ini untuk membuat langkah menguntungkan.
“Hubungan sebelumnya antara Wagner dan pemerintah Rusia kemungkinan besar sudah berakhir,” kata peneliti senior Foreign Policy Research Institute, Rob Lee, mengutip New York Times.
Ia menambahkan, “Bahkan seandainya ini tidak terjadi, tidak jelas apakah Wagner akan memainkan peran yang sama dalam perang ini seperti dalam pertempuran untuk Bakhmut.”
Menhan Rusia Tinjau Pos Komando Garis Depan Pertempuran
Menteri Pertahanan Rusia Sergey Shoigu memeriksa pos komando depan kelompok pasukan ‘Barat’ yang mengambil bagian dalam operasi militer negara itu.
Kabar tersebut diungkap Kementerian Pertahanan (Kemhan) Rusia pada Senin (26/6/2023).Laporan ini muncul setelah upaya kudeta yang gagal oleh kelompok tentara bayaran Wagner.
“Selama kunjungan tersebut, Shoigu mendengar laporan dari komandan pengelompokan, Kolonel Jenderal Evgeny Nikiforov, tentang situasi di garis depan, manuver yang dilakukan pihak Ukraina, dan tugas operasional yang dilakukan militer Rusia,” ungkap pernyataan Kemhan Rusia, dilansir Russia Today.
Nikiforov juga memberi tahu menteri tentang persiapan resimen cadangan baru untuk pengelompokan ‘Barat’ dan koordinasi tempur mereka.
“Shoigu mencatat efektivitas tinggi dari pasukan Rusia yang beroperasi di dan dekat Wilayah Kharkov Ukraina,” papar pernyataan Kemhan Rusia, seperti dikutip sindonews, Senin (26/6/2023).
Dia juga mengatakan perhatian khusus harus diberikan untuk memastikan pasukan Rusia diberikan semua yang mereka butuhkan, dan ditampung dengan aman.
Menurut Kementerian Pertahanan, “Kepemimpinan pengelompokan ‘Barat’ ditugaskan untuk melanjutkan pengintaian aktif untuk mengungkap rencana musuh terlebih dahulu, dan mencegah implementasi mereka dari pendekatan jarak jauh ke garis kontak.”
Kementerian juga menerbitkan video, menunjukkan Shoigu dan Nikiforov terbang di atas area tersebut dengan helikopter dan menteri berbicara dengan komandan, dan diperlihatkan peta di pos komando.
Awal bulan ini, Ukraina meluncurkan serangan balasan yang telah lama diantisipasi di sepanjang garis depan, tetapi menurut Moskow, sejauh ini gagal mencapai kemajuan yang signifikan.
Kiev mengklaim merebut beberapa desa kecil, yang tampaknya jauh dari garis pertahanan utama Rusia.
Selama pertemuan Dewan Keamanan Rusia pekan lalu, yang diketuai Presiden Vladimir Putin dan dihadiri Shoigu dan pejabat tinggi keamanan lainnya, diumumkan antara 4 Juni dan 21 Juni Ukraina telah kehilangan 246 tank, termasuk 13 unit yang dipasok oleh Barat, 152 kendaraan tempur infanteri, dan lebih dari 13.000 tentara.
Sejumlah pakar menyebut kemajuan Ukraina dalam serangan balasan ini sangat kecil dan kerugian yang dialaminya sangat besar. (*/UT)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















