BERKUTAT dengan Gunungan Sampah Demi Mengais Rezeki

BERKUTAT dengan Gunungan Sampah Demi Mengais Rezeki

SuarIndonesia – Aroma menyengat gunungan sampah seakan sudah tidak tercium lagi oleh indera penciuman para pemulung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Basirih.

Bahkan, di tempat yang dianggap menjijikkan oleh kebanyakan warga itu digunakan untuk mencari rezeki demi menghidupi keluarga.

Anehnya, mereka rata-rata mengaku hampir tak pernah terpapar penyakit.

Salah satunya, Diana. Wanita berusia 46 tahun itu baru saja selesai memilah botol-botol plastik hingga kaleng-kaleng bekas yang dikumpulkannya dalam karung sebelum ditimbang atau disetor ke pengepul.

Kucuran keringat pun nampak masih mengucur di wajah perempuan tersebut. Saat dibincangi, ia mengaku sudah lima tahun memulung di kawasan tersebut.

Dalam sepekan, Diana biasa menghabiskan empat hari hanya untuk memulung menemani sang suami. Penghasilan yang didapat memang masih jauh dari yang diharapkannya.

Tapi menurutnya, penghasilan yang ada sekarang ini setidaknya bisa menghidupi keluarganya.

“Alhamdulillah. Ada rezekinya,” ucapnya, Kamis (2/9/2021).

Tiap hari berkutat dengan gunungan sampah, tak menutup kemungkinan Diana bisa terpapar penyakit. Namun, jawaban yang keluar darinya malah mengejutkan.

“Terus terang. Saya, bahkan kami di sini, jarang terpapar penyakit,” ungkapnya, kemudian tergelak.

Kalau pun bisa dikatakan penyakit, dirinya mengaku hanya kerap merasa dehidrasi. Paling parah, darah tinggi. Dia menilai, itu terjadi lantaran terlalu lama terpapar terik matahari.

“Kalau sudah seperti itu, biasanya saya beristirahat sebentar. Minum, lalu lanjut bekerja,” jelasnya perempuan asal Handil Palung, itu.

Hal senada juga diungkapkan warga lainnya yang memulung di sana, Halidah.

Perempuan asal Handil Bujur itu mengaku, bertahun-tahun memulung, dirinya juga tak pernah merasa terpapar penyakit.

“Kalaupun ada, cuma sakit maag. Karena saya sering terlambat makan,” ungkapnya sembari melempar senyum.

Ia tak memungkiri, pekerjaan yang dijalaninya itu sangat berisiko. Bahkan dirinya mengakui, sebelum memutuskan memulung, dia merasa dibayang-bayangi ragam penyakit yang bakal mendera.

“Tapi setelah dijalani, ternyata saya justru jarang terpapar penyakit. Ya, kalau soal menghirup aroma tak sedap, itu sudah pasti. Bahkan, saya pernah tak bisa makan selama sehari karena terus ingat baunya. Setelah itu, ya terbiasa saja,” jelasnya.

Di TPA Basirih, warga bekerja dengan suka cita. Meskipun, tempat mereka bekerja itu adalah gunungan sampah.

Sebagai tempat untuk beristirahat, atau tempat mengepak sampah yang dikumpulkan, mereka mendirikan semacam gubuk. Di situ pula mereka biasa makan dan minum.

Namun, tak jarang pula, mereka biasa makan di tengah gunungan sampah dan pemandangan itu, sudah merupakan hal yang biasa tampak di situ.

TPA Basirih tidak hanya diisi oleh pemulung. Ada pula pedagang makanan keliling. Salah satunya, adalah Masran. Ia pedagang pentol dan minuman dingin asal Pasir Mas, Kecamatan Banjarmasin Barat.

Diakui Masran, dirinya mengaku sempat khawatir terpapar penyakit lantaran berjualan di tempat tersebut. Tapi, kekhawatiran itu pupus. Lantaran dagangan yang dibawanya cepat laku.

Menurutnya, dagangan favorit yang paling banyak dibeli para pemulung yang bekerja di TPA Basirih, adalah minuman dingin dan tahu.

“Awal-awal ya sama seperti mereka. Makan pun sulit kalau ingat kondisi di sini. Tapi setelah itu, ya biasa saja. Saya malah senang, karena jualan saya lekas laku di sini,” ungkap Masran. (SU)

 216 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: