11 SAKSI OTT Pengadaan Alkes di RSUD Ulin Banjarmasin, Inilah Motif dan Ancaman Hukuman Kedua Tersangka

11 SAKSI OTT Pengadaan Alkes di RSUD Ulin Banjarmasin, Inilah Motif dan Ancaman Hukuman Kedua Tersangka

SuarIndonesia -Ada 11 saksi telah dimintai keterangan dalam kasus Gratifikasi yang kena OTT (Operasi Tangkap Tangan) berkaitan pengadaan barang alkes (alat kesehatan) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ulin Banjarmasin.

Kemudian inilah motif serta ancaman hukuman yang bakal dihadapi kedua tersangka yakni berinisial Sbh dan SH.

OTT dilakukan jajaran Subdit III Tipikor Dit Reskrimsus Polda Kalsel dan digelar di Media Center Bid Humas Polda Kalsel, Selasa (14/9/2021) dengan menghadirkan dua tersangka yang didampingi penasihat hukumnya, Ernawati SH MH.

Kabid Humas Polda Kalsel, Kombes Pol M Rifa’i didampingi Kasubdit III Tipikor Dit Reskrimsus Polda Kalsel, AKBP M Amin Rofi bersama Kanit 2, AKP Thomas Afrian dan jajaran.

Sementara penasihat hukum kedua tersangka  Ernawati SH MH, ketika mau diminta komentarnya, enggan menjelaskan.

Disebut tersangka Sbh merupakan oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) RSUD Ulin, dan tersangka SH sales marketing perusahaan pengadaan alat kesehatan, PT Capricorn.

OTT  tanggal 21 Agustus di salah satu rumah makan di Jalan A Yani Km 5 Banjarmasin

Dari hasil pengungkapan kasus tersebut, polisi menyita sejumlah alat bukti.  “Iya diantaranya uang sebesar Rp11, 5 juta, yang disita saat OTT yang merupakan hadiah SH kepada Sbh,” tambah Kasubdit III Tipikor Dit Reskrimsus Polda Kalsel, AKBP M Amin Rofi.

Motif gratifikasi yang dilakukan berupa meloloskan tender pengadaan alat kesehatan.

Meski Sbh bukan panitia pengadaan barang di RSUD Ulin, namun dia memiliki koneksi ke operator pengadaan.

“Sehingga PT Capricorn dimenangkan tendernya,” jelasnya lagi.

Karena telah membantu, maka SBH diberi imbalan hadiah. Kendati demikian, tak disebutkan berapa total anggaran proyek pengadaan barang yang dilakukan melalui e-katalog tersebut.

AKBP M Amin Rofi menjelaskan, dalam proses penyidikan yang telah dilakukan sedikitnya ada 11 saksi telah dimintai keterangan atas kasus ini.

Dua orang di TKP, tiga dari RSUD Ulin dan empat di PT Capricorn serta saksi ahli.

Sedangkan alat kesehatan yang dibeli dari tender bermasalah diantaranya tempat tidur untuk keperluan Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan pendeteksi nadi.

Atas perbuatannya para tersangka ini dijerat pasal 12B dan 12C Undang – Undang Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Tahun 2001.

Kanit 2, AKP Thomas Afrian

Tersangka Sbh diancam penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun kurungan, serta denda paling sedikit Rp 200 juta dan paling banyak Rp 1 miliar.

“Sedang SH diancam hukuman penjara paling singkat 1 tahun kurungan dan paling lama 5 tahun kurungan, serta denda paling sedikit Rp 50 juta dan paling lama Rp 250 juta,” pungkasnya. (ZI)

 1,908 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: